INVESTASI DAN INSTRUMEN PASAR MODAL
A.
Perspektif Umum Investasi
1.
Definisi Investasi
Investasi adalah komitmen atas sejumlah dana atau
sumberdaya lainnya yang dilakukan pada saat ini, dengan tujuan memperoleh
sejumlah keuntungan di masa yang akan datang.
Istilah investasi bisa berkaitan dengan berbagai macam aktivitas. Menginvestasikan
sejumlah dana pada aset real (tanah, emas, mesin atau bangunan) maupun aset
finansial (deposito, saham, atau obligasi) merupakan aktivitas investasi yang
umumnya dilakukan. Bagi investor yang lebih pintar dan lebih berani menanggung
risiko, aktivitas investasi yang mereka lakukan juga bisa mencakup investasi
pada aset-aset finansial lainnya yang lebih kompleks seperti warrants, options, dan future
maupun ekuitas internasional.
Pembahasan investasi
berkaitan dengan pengolahan aset finansial terutama sekuritas yang
diperdagangkan (marketable securities).
-
Aset finansial
adalah klaim berbentuk surat berharga atas sejumlah aset-aset pihak penerbit
surat berharga tersebut.
-
Sedangkan marketable
securities adalah aset-aset finansial yang bisa diperdagangkan dengan mudah dan
dengan biaya transaksi yang murah pada pasar yang terorganisir.
Contoh
Investasi:
-
Seorang investor
membeli sejumlah saat ini dengan harapan memperoleh keuntungan dari kenaikan
harga saham ataupun sejumlah dividen di masa yang akan datang.
-
Sebagai contoh
sedehana lainnya, waktu yang anda korbankan untuk mempelajari buku bacaan juga
merupakan suatu investasi. Anda mungkin harus merelakan waktu bersantai anda
bersama teman untuk membaca buku dengan harapan memperoleh manfaat yang akan
membantu menyukseskan karier anda di masa akan datang. Jadi harapan akan masa
depan yang lebih baik tersebut merupakan imbalan atas komitmen waktu dan usaha
yang anda lakukan saat ini.
-
2.
Definisi Dan
Jenis Investor
Pihak-pihak yang melakukan
kegiatan investasi disebut investor. Investor pada umumnya bisa digolongkan
menjadi dua, yaitu:
Investor individual
(individual/retail investors) Investor individual terdiri dari
individu-individu yang melakukan aktivitas investasi.
Investor institusional
(institutional investors) Investor institusional biasanya terdiri dari
perusahaan perusahaan asuransi, lembaga penyimpan dana (bank dan lembaga simpan
pinjam), lembaga dana pensiun, maupun perusahaan investasi
3. Tujuan
Investasi
-
Meningkatkan kesejahteraan investor.
Contoh:
Sdr. C. Ronaldo mulai menabung
Rp 3 juta per tahun pada usia 25 tahun.
C. Ronaldo pensiun 40 tahun kemudian pada usia 65 tahun. Besarnya nilai
mendatang investasi Sdr. C. Ronaldo dapat dihitung sebagai berikut:
Pada
tingkat bunga 8 persen per tahun, nilai mendatang
40 = Rp3.000.000 x FVIFA8%
40 = Rp3.000.000 x 259,06
= Rp777.180.000.
Pada
tingkat bunga 12 persen per tahun, nilai mendatang
40 = Rp3.000.000 x FVIFA12%
40 = Rp3.000.000 x 767,09
=
Rp2.301.270.000.
Pada
tingkat bunga 20 persen per tahun, nilai mendatang
40 =
Rp3.000.000 x FVIFA20%
40 = Rp3.000.000 x 7.343,9
= Rp22.031.700.000
Semua
orang mungkin setuju dengan pernyataan tujuan investasi tersebut. Tapi
pernyataan tersebut terlalu sederhana sehingga kita perlu mencari jawaban yang
lebih tepat tentang tujuan orang berinvestasi.
Sumber-sumber
dana investasi bisa berasal dari aset-aset yang dimiliki saat ini, pinjaman
dari pihak lain, ataupun dari tabungan. Investor yang mengurangi konsumsinya
saat ini akan mempunyai kemungkinan kelebihan dana untuk ditabung. Dana yang
berasal dari tabungan tersebut jika diinvestasikan akan memberikan harapan
peningkatan kemampuan konsumsi investor di masa akan datang, yang diperoleh
dari peningkatan kesehjateraan investor tersebut.
Secara
lebih khusus lagi, ada beberapa alasan mengapa seseorang melakukan investasi,
antara lain adalah sebagai berikut:
a. Untuk mendapatkan kehidupan
yang lebih layak di masa datang.
Seseorang yang bijaksana akan
berpikir bagaimana meningkatkan taraf hidupnya dari waktu ke waktu atau
setidaknya berusaha bagaimana mempertahankan tingkat pendapatannya yang ada
sekarang agar tidak berkurang di masa yang akan datang.
b. Mengurangi tekanan inflasi.
Dengan melakukan investasi
dalam pemilikan perusahaan atau obyek lain, seseorang dapat menghindarkan diri
dari risiko penurunan nilai kekayaan atau hak miliknya akibat adanya pengaruh
iinflasi.
c. Dorongan untuk menghemat pajak.
Beberapa negara di dunia banyak
melakukan kebijakan yang bersifat mendorong tumbuhya investasi di masyarakat
melalui pemberian fasilitas perpajakan kepada masyarakat yang melakukan
investasi pada bidang-bidang usaha tertentu.
d. Dan lain-lain.
B.
Proses Investasi
Proses investasi meliputi
pemahaman dasar-dasar keputusan investasi dan bagaimana mengorganisir
aktivitas-aktivitas dalam proses keputusan investasi. Untuk memahami proses
investasi, seorang investor terlebih dahulu harus mengetahui beberapa konsep dasar investasi, yang akan
menjadi dasar pijakan dalam setiap tahap pembuatan keputusan investasi yang
akan dibuat.
Hal mendasar dalam proses
keputusan investasi adalah pemahaman hubungan antara return harapan dan risiko
suatu investasi. Hubungan risiko dan return harapan dari suatu investasi
merupakan hubungan yang searah dan linear. Artinya, semakin besar return
harapan, semakin besar pula tingkat risiko yang harus dipertimbangkan. Hubungan
seperti itulah yang menjawab pertanyaan mengapa tidak semua investor hanya
berinvestasi pada aset yang menawarkan tingkat return yang paling tinggi,
investor juga harus mempertimbangkan tingkat risiko yang harus ditanggung.
v
Dasar
Keputusan Investasi
Dasar
keputusan investasi terdiri dari tingkat return harapan, tingkat risiko serta
hubungan antara return dan risiko. Berikut ini akan dibahas masing-masing dasar
keputusan investasi tersebut.
1.
Return
Alasan utama orang berinvestasi
adalah untuk memperoleh keuntungan. Dalam konteks manajemen investasi tingkat
keuntungan investasi disebut sebagai return. Suatu hal yang sangat wajar
jika investor menuntut tingkat return tertentu atas dana yang telah dinvestasikannya.
Return harapan investor dari investasi yang dilakukannya merupakan kompensasi
atas biaya kesempatan (opportunity cost)
dan risiko penurunan daya beli akibat adanya pengaruh inflasi.
Dalam konteks manajemen
investasi, perlu dibedakan antara return yang diharapkan (expected
return) dan return aktual atau yang terjadi (realized return).
- Return harapkan (expected
return) merupakan tingkat return yang diantisipasi investor di masa datang.
- Sedangkan return yang terjadi
(realized return) atau return aktual merupakan tingkat return yang telah
diperoleh investor pada masa lalu.
Ketika investor menginvestasikan dananya, dia akan mensyaratkan tingkat
return tertentu, dan jika periode investasi telah berlalu, investor tersebut
akan dihadapkan pada tingkat return yang sesungguhnya dia terima. Antara
tingkat return harapan dan tingkat
return aktual yang diperoleh investor dari investasi yang dilakukan mungkin
saja berbeda. Perbedaan antara return harapan dengan return yang benar-benar
diterima (return aktual) merupakan risiko yang harus dipertimbangkan dalam
proses investasi sehingga dalam berinvestasi di samping memperhatikan tingkat
return, investor harus selalu mempertimbangkan tingkat risiko suatu investasi.
2.
Risiko
Sudah sewajarnya jika investor mengharapkan
return yang setinggi-tingginya dari investasi yang dilakukannya. Tetapi, ada
hal yang penting yang harus ditanggung dari investasi tersebut.
Risiko bisa diartikan sebagai
kemungkinan return aktual yang berbeda dengan return harapan. Secara spesifik,
mengacu pada kemungkinan realisasi return aktual lebih rendah dari return
minimum yang diharapkan. Return minimum yang diharapkan seringkali juga disebut
sebagai return yang disyaratkan (required
rate of return). Dalam ilmu ekonomi pada umumnya dan ilmu investasi pada
khususnya terdapat asumsi bahwa investor adalah makhluk yang rasional. Investor
yang rasional tentunya tidak akan menyukai ketidakpastian atau risiko. Investor
yang mempunyai sikap enggan terhadap risiko seperti ini disebut sebagai risk-averse investor. Investor seperti
tidak akan mau mengambil risiko suatu investasi jika investasi tersebut tidak
memberikan harapan return yang layak sebagai kompensasi terhadap risiko yang
harus ditanggung investor tersebut.
Sikap investor terhadap risiko
akan sangat tergantung kepada prefensi investor tersebut terhadap risiko.
Investor yang lebih berani akan memilih risiko investasi yang lebih tinggi,
yang diikuti oleh harapan tingkat return yang tinggi pula. Demikian pula
sebaliknya, investor yang tidak mau menanggung risiko yang terlalu tinggi,
tentunya tidak akan bisa mengharapkan tingkat return yang terlalu tinggi.
3.
Hubungan
Tingkat Risiko dan Return Harapan
Seperti telah dijelaskan di atas, hubungan antara
risiko dan return harapan merupakan hubungan yang besifat searah dan linear.
Artinya, semakin besar risiko suatu aset, semakin besar pula return harapan
atas aset tersebut, demikian sebaliknya.
Selanjutnya, obligasi pemerintah terlihat mempunyai risiko yang cenderung
rendah dan tingkat return diharapkan yang juga tidak terlalu tinggi. Sedangkan disisi
lain jika kita berinvestasi pada kontrak future misalnya, sesuai dengan gambar
diatas, terlihat bahwa risiko yang harus ditanggung tergolong sebagai risiko
yang tinggi, dengan tingkat return diharapkan yang tinggi pula.
Kesimpulan yang dapat ditarik dari pola hubungan antara risiko dengan
return harapan adalah bahwa risiko dan return harapan mempunyai hubungan yang
searah dan linear. Artinya, semakin tinggi risiko suatu aset, semakin tinggi
pula tingkat return harapan dari aset tersebut, demikian sebaliknya.
C.
Proses
Keputusan Investasi
Proses keputusan investasi merupakan proses
keputusan yang berkesinambungan (going process). Proses keputusan investasi
terdiri dari lima tahap keputusan yang berjalan terus menerus sampai tercapai
keputusan investasi yang baik. Tahap-tahap keputusan investasi meliputi 5 tahap
keputusan, yaitu :
1.
Menetapkan Sasaran Investasi
Langkah pertama dalam proses manajemen investasi adalah
menetapkan sasaran investasi. Sasaran yang ingin dicapai tergantung pada investor
yang membuat keputusan tersebut. Misalnya , lembaga dana pensiun yang bertujuan
untuk memperoleh dana untuk membayar dana pensiun nasabahnya di masa depan
mungkin akan memilih investasi pada portofolio reksa dana. Sedangkan bagi
institusi penyimpanan dana seperti bank misalnya, mempunyai tujuan untuk
memperoleh return yang lebih tinggi di atas biaya investasi yang di keluarkan. Halim (2005: 4) menjelaskan ada tiga hal yang
harus dipertimbangkan dalam melakukan investasi yaitu: (1) tingkat pengembalian
yang diharapkan (expected rate of return), (2) Tingkat risiko (rate of risk),
(3) ketersediaan jumlah dana yang diinvestasikan. Apabila dana cukup tersedia,
maka investor menginginkan pengembalian yang maksimal dengan risiko tertentu.
2.
Membuat Kebijakan Investasi
Langkah kedua dalam proses manajemen investasi adalah
membuat pedoman kebijakan untuk memenuhi sasaran investasi. Hal utama yang
harus diputuskan adalah keputusan alokasi
asset/aktiva. Yaitu bagaimana sebaiknya dana investasi didistribusikan
terhadap kelompok-kelompok aktiva utama yang ada. Kelompok aktiva utama umumnya
meliputi saham, obligasi, real estat,ataupun sekuritas luar negeri.
Namun
harus disadari bahwa ada banyak kendala untuk membuat kebijakan investasi.
Kendala utama adalah dari klien dan peraturan yang ada.
a)
Dari klien, contohnya:
klien ingin mempertahankan tingkat diversifikasi dan keamanan pada taraf
tertentu, dan membatasi aktivitas aliran dana pada aktiva tertentu.
b)
Dari peraturan yang ada,
misalnya pembatasan terhadap kelompok aktiva yang dapat diinvestasikan oleh
intitusi keuangan. Selain itu ada juga kendala tentang persyaratan pembuatan
laporan keuangan.
3.
Pemilihan strategi portofolio
Strategi portofolio dapat dibedakan menjadi strategi
aktif dan pasif. Strategi portofolio aktif menggunakan informasi-informasi yang
tersedia dan tehnik-tehnik peramalan untuk memperoleh kinerja yang lebih baik
dibandingkan portofilio yang hanya dideversifikasikan secara luas. Portofolio pasif adalah strategi yang melibatkan
input ekspektasional minimal dan sebagai gantinya bergantung pada diversifikasi
untuk mencocokkan kinerja dari beberapa indeks pasar. Asumsi starategi pasif
ini adalah bahwa semua informasi yang tersedia
akan diserap pasar dan direfleksikan pada harga saham.
Dalam ruang lingkup obligasi, beberapa strategi yang
dikelompokkan sebagai strategi portofolio terstruktur telah sering digunakan.
Strategi portofolio terstruktur adalah suatu strategi dimana portofolio
dirancang untuk dapat mencapai kinerja dari beberapa kewajiban yang harus
dibayar.
Dari
ketiga strategi diatas, manakah strategi yang terbaik yang harus
dilakukan/dipilih? Jawabannya tergantung:
1. Pandangan klien atau manajer keuangan mengenai pasar
yang efisien
2. Karaketristik dari kewajiban klien.
Kita harus juga melihat
efisiensi harga pasar, yaitu tingkat kesulitan yang dibutuhkan menghasilkan
pengembalian yang lebih besar dari pada manajemen pasif, setelah dilakukan
penyesuaian antara resiko dengan strategi dan biaya transaksi dengan penerapan strategi.
4.
Pemilihan Aset
Proses ini membutuhkan evaluasi dari masing-masing
sekuritas. Tujuan tahap ini adalah manajer investasi harus berusaha
mencanangkan atau mencari kombinasi portofolio yang efisien (portofolio yang
memberikan pengembalian yang diharapkan terbesar untuk tingkat risiko tertentu
atau tingkat risiko terendah untuk tingkat pengembalian tertentu.
5.
Mengukur dan Mengevaluasi Kinerja Portofolio
Langkah ini meliputi pengukuran kinerja portofolio dan
selanjutnya mengevaluasi kinerja tersebut secara relative terhadap patok duka
(bench-mark). Patok duga merupakan kinerja dari serangkaian sekuritas yang
telah ditentukan, diperoleh untuk tujuan pebandingan. Proses benchmarking biasanya dilakukan terhadap
indeks portofolio pasar, untuk
mengetahui seberapa baik kinerja portofolio yang telah ditentukan
dibandingkan dengan kinerja portofolio lainnya (portofolio pasar).
D.
Pertimbangan Dalam Keputusan Investasi
Seperti
dibahas sebelumnya bahwa dalam Investasi; Pengertian Dasar, Jenis dan manfaat
bahwa Suatu proyek investasi umumnya memerlukan dana yang besar dan akan
mempengaruhi perusahaan dalam jangka panjang. Oleh karena itu dilakukan
perencanaan investasi yang lebih teliti agar tidak terlanjur menanamkan
investasi pada proyek yang tidak menguntungkan. Beberapa hal yang perlu
dipertimbangkan dalam berinvestasi :
a.
Aset Finansial
1.
Tingkat keuntungan dan
tingkat risiko
Keputusan
investasi merupakan keputusan atau pilihan atas suatu skenario tingkat
keuntungan yang diharapkan (expected return) dan tingkat risiko (risk) yang siap
ditanggung. Pemodal harus berhitung dengan cermat atas dua hal tersebut. Untuk
mendapatkan keuntungan yang lebih besar, pemodal harus siap menanggung risiko yang besar juga.
Sebaliknya, semakin rendah risiko
yang ditanggung, semakin rendah pula tingkat keuntungan yang dapat diharapkan.
2.
Jangka waktu investasi
(time horizon)
Jangka
waktu investasi dapat menentukan perilaku investor dalam aktivitas
investasinya. Jangka waktu investasi dapat membantu dalam menentukan berapa
besar resiko yang dapat ditanggung. Pada umumnya, orang yang berinvestasi untuk
jangka panjang menangung resiko yang lebih besar. Hal ini disebabkan investasi
saham mengalami fluktuasi yang tinggi dari waktu ke waktu. Tetapi tingkat
keuntungan rata-ratanya stabil untuk jangka panjang.
3.
Kenali karakter
Umumnya
karakter investor terbagi atas 3 yaitu (1) pengambil resiko (risk taker), (2)
penghindar resiko (risk avoider) dan (3) netral. Karakter investasi akan
berpengaruh terhadap perilaku dalam berinvestasi dan karakter tersebut
menentukan strategi yang tepat
dalam berinvestasi.
Biasanya
para pengambil resiko bersikap agresif dan spekulatif, sebaliknya para
penghindar resiko cenderung menghindari berita atau surat kabar yang tidak
jelas sumbernya (rumor) dan mereka selalu mempertimbangkan secara matang dan
terencana dengan baik atas keputusan investasinya, sedangkan mereka yang masuk
dalam kategori netral umumnya cukup fleksibel dan bersikap hati-hati (prudent) dalam mengambil
keputusan.
4.
Pelajari keuangan
Untuk
kebanyakan orang, investasi di reksa dana hanyalah sebagian dari total aset.
Jika investasi anda lebih banyak pada deposito berjangka, anda mungkin dapat
mengambil resiko lebih besar untuk tingkat keuntungan yang lebih besar pula
dari investasi pada reksa dana.
5.
Evaluasi kinerja
keuangan
Memilih
reksa dana berdasarkan keuntungan yang tinggi. Data histories membuktikan bahwa
reksa dana yang mempunyai kinerja bagus pada masa lalu tidak selalu memberikan
kinerja sama pada masa yang akan datang. Kinerja masa lalu hanya menunjukkan
bagaimana seseorang berinvestasi dapat mencapai tujuannya.
6.
Lakukan diversifikasi
Salah
satu untuk mencapai tingkat keuntungan yang baik secara konsisten adalah
diversifikasi atau berinvestasi pada lebih dari satu reksa dana. Diversifikasi
merupakan sebuah cara untuk mengendalikan resiko karena walaupun berinvestasi
pada beberapa reksa dana beresiko tinggi, bila nilai salah satu investasi
tersebut menurun,
nilai investasinya yang lainnya mungkin naik.
a.
Aset Non Finansial
1.
Pajak penjualan
Setiap
keuntungan atau pendapatan dari berbagai jenis investasi akan selalu dibebani
oleh pajak. Demikian pula dengan investasi dalam bentuk properti. Pajak dari
investasi properti baru dikenakan jika investor memperoleh keuntungan dari
penjualan yang dimilikinya. Hal ini perlu dipertimbangkan karena pajak bisa
sangat mempengaruhi keuntungan
yang potensial untuk anda peroleh.
2.
Pendapatan tambahan.
Melakukan
investasi di bidang properti menjadi sumber pendapatan tambahan. Bagi beberapa
investor pendapatan yang bersumber pada investasi ini banyak dilakukan dengan
cara menyewakan satu atau beberapa unit gedung apartemennya dimana mereka juga
tinggal disana, pendapatan tersebut untuk membayar biaya pemeliharaan hak milik
dan melunasi biaya balik nama. Ini adalah contoh dari penggunaan pendapatan
yang berlebih dari para investor untuk memperoleh kekayaan.
3.
Investasi jangka panjang.
Hal
ini menjadi sumber utama untuk memperoleh kekayaan. Sumber ini dapat dilihat
dari lokasi yang strategis dan perawatan yang baik, real estate dapat dihargai
dengan harga yang tinggi dalam jangka waktu yang relatif singkat.
4.
Pemecahan masalah dengan
berinvestasi.
Dengan
cara berinvestasi dengan membeli rumah atau apartemen untuk mendapatkan
pendapatan lebih.
5.
Tenaga kerja keluarga.
Tenaga kerja anggota
keluarga sering menjadi alasan utama oleh beberapa investor untuk memperoleh
tenaga kerja tetap. Contohnya mengelola hotel, rumah makan, dan lain-lain
adalah sering dimiliki dan dioperasikan oleh keluarga-keluarga utuh,
masing-masing anggota bekerja untuk perekonomian mereka sendiri.
A.
Pengertian Pasar Modal
Pasar modal adalah pertemuan antara pihak yang memiliki
kelebihan dana dengan pihak yang membutuhkan dana dengan cara memperjualbelikan
securitas. Dengan demikian, pasar modal juga bisa di artikan sebagai pasar
untuk memperjualbelikan securitas yang umumnya memiliki umur lebih dari
setahun, seperti saham dan obligasi. Sedangkan tempat terjadinya jual beli sekuritas
disebut dengan Bursa Efek. Oleh karena itu, bursa efek merupakan arti dari
pasar modal secara fisik. Untuk kasus di indonesia terdapat satu bursa efek,
yaitu Bursa Efek Indonesia (BEI). Sejak tahun 2007, Bursa Efek Jakarta (BEJ)
dan Bursa Efek Surabaya (BES), bergabung dan berubah nama menjadi Bursa Efek
Indonesia (BEI).
Pasar modal juga berfungsi sebagai lembaga perantara.
Fungsi ini menunjukkan peran penting pasar modal dalam menunjang perekonomian
karena pasar modal dapat menghubungkan pihak yang membutuhkan dana dengan pihak
yang mempunyai kelebihan dana. Disamping itu, pasar modal dapat mendorong
terciptanya alokasi dana yang efisien, karena dengan adanya pasar modal maka
pihak yang kelebihan dana dapat memilih alternatif investasi yang memberikan
return yang paling optimal.
v Pasar Perdana
Pasar perdana terjadi
pada saat perusahaan emiten menjual sekuritasnya
kepada investor umum untuk pertama kalinya. Perusahaan sebelumnya
mengeluarkan prospektus yang berisi informasi perusahaan secara detail. Prospektus
berfungsi untuk memberikan informasi mengenai kondisi perusahaan kepada para calon investor sehingga dengan
adanya informasi tersebut, investor akan bisa mengetahui prospek perusahaan di masa datang, dan selanjutnya
tertarik untuk membeli sekuritas yang diterbitkan emiten.
v Pasar Sekunder
Pasar sekunder merupakan
tempat perdagangan atau jual-beli
sekuritas oleh dan antar investor setelah sekuritas emiten dijual
di pasar perdana.
Perdagangan
di pasar sekunder dapat dilakukan di dua jenis pasar, yaitu:
o
Pasar lelang (auction market).
Pasar
sekuritas yang melibatkan proses pelelangan (penawaran) pada sebuah lokasi
fisik.
o
Pasar negosiasi (negotiated
market).
Pasar
negosiasi terdiri dari jaringan berbagai dealer yang menciptakan pasar
tersendiri di luar lantai bursa bagi
sekuritas, dengan cara membeli dari dan menjual ke
investor. Pasar
negosiasi juga sering disebut dengan istilah over the counter market
(OTC) atau di Indonesia dikenal sebagai bursa paralel.
3.2 Instrumen Pasar Modal
(Sekuritas)
Instrumen Pasar Modal dalam konteks praktis lebih banyak
dikenal dengan sebutan Sekuritas.
Sekuritas atau juga disebut Surat Berharga, merupakan asset financial yang
menyatakan klaim keuangan. Undang-undang pasar modal No. 8 Tahun 1995
mendefinisikan efek adalah surat berharga, yaitu surat pengakuan hutang, surat
berharga komersial, saham, obligasi, tanda bukti hutang, unit penyertaan
investasi kolektif, kontrak berjangka atas efek, dan setiap derivatif dari
efek. Sekuritas diperdagangkan di pasar finansial, yang terdiri dari pasar
modal dan pasar uang.
Pasar
uang pada dasarnya merupakan pasar untuk sekuritas jangka
pendek baik yang dikeluarkan oleh bank dan perusahaan umumnya maupun
pemerintah. Di pasar uang, sekuritas yang diperjualbelikan antara lain adalah
sertifikat bank Indonesia (SBI), surat berharga pasar uang, commercial paper,
promissory notes, call money, repurchase agreement, banker’s acceptance, surat
perbendaharaan negara, dan lain-lain.
Pasar modal pada perinsipnya adalah pasar untuk sekuritas
jangka panjang baik berbentuk hutang maupun ekuitas (modal sendiri) serta
berbagai produk. Berbagai sekuritas jangka panjang yang saat ini diperdagangkan
di pasar modal Indonesia antara lain adalah saham biasa dan saham preferen,
obligasi perusahaan dan obligasi konversi negara, bukti rigth, warant, kontrak
opsi, kontrak berjangka, dan reksa dana.
Sekuritas Di Pasar Modal
Indonesia
3.3 Sekuritas di Pasar
Ekuitas
Sekuritas
yang diperdagangkan di pasar bersifat ekuitas Indonesia adalah saham. Baik
saham biasa maupun saham preferen serta bukti right dan waran. Dari keempat
sekuritas ini, saham biasa merupakan sekuritas yang terpenting dan paling
dikenal oleh masyarakat Indonesia. Oleh karenanya, sebutan pasar ekuitas
dimengerti sebagai pasar saham dan sebutan saham sering dimaksudkan sebagai
saham biasa.
3.3.1 Saham
biasa
saham biasa menyatakan kepemilikan suatu
perusahaan. Saham biasa adalah sertifikat yang menunjukkan bukti kepemilikan
suatu perusahaan. Apabila seorang investor memiliki 1 juta lembar saham biasa
suatu perusahaan dari total saham biasa yang berjumlah 100 juta lembar, maka ia
memiliki 1 persen perusahaan tersebut. Sebagai pemilik, pemegang saham biasa
perusahaan mempunyai hak suara proporsional pada berbagai keputusan penting
perusahaan antara lain pada persetujuan keputusan dalam rapat umum pemegang
saham (RUPS).
o Deviden
Pemegang saham biasa memiliki hak klaim atas
penghasilan dan aktiva perusahaan. Apabila perusahaan menghasilkan laba,
sebagian atau seluruh laba dapat dibagikan kepada pemiliknya yaitu pemegang
saham sebagai dividen. Pada umumnya, dividen yang dibayarkan perusahaan kepada
pemegang saham adalah rupiah tunai yang disebut dividen tunai (cash dividend).
Namun pembagian dan besarnya dividen tidaklah dijamin. Dari tahun ke tahun,
besarnya rupiah dividen tunai yang dibagikan bisa berubah naik turun ataupun
tetap dan bahkan juga bisa tidak dibagikan.
o Deviden Saham
Dividen saham (stock dividend) adalah dividen yang dibagikan
oleh perusahaan kepada pemegang saham dalam bentuk saham baru sehingga
meningkatkan jumlah saham yang dimiliki pemegang saham.
3.3.2
Saham bonus
Saham Bonus (bonus share) merupakan saham baru yang diberikan
kepada pemegang saham dan berasal dari kapitalisasi agio saham. Bedanya adalah
dividen saham berasal dari laba perusahaan.
Contoh:
Sebuah perusahaan membagikan dividen total
Rp10 milyar kepada para pemegang saham. Banyaknya saham yang beredar adalah 1
milyar lembar saham biasa. Anggap Bapak Bambang memiliki 1 juta lembar saham,
berapa rupiah Bapak Bambang menerima pembagian dividen ini?
Jawab:
Dividen per lembar saham adalah Rp10 milyar /
1 milyar saham = Rp10. Untuk setiap lembar saham yang dimilikinya, Bapak
Bambang menerima Rp10 dari dividen yang dibagikan perusahaan. Karena Bapak
Bambang memiliki 1 juta lembar saham, maka dia mendapat total Rp10 juta.
3.3.3
Saham preferen
Saham preferen (preferred stock)
merupakan satu jenis sekuritas ekuitas yang berbeda dalam beberapa hal dengan
saham biasa, dividen pada saham preferen biasanya dibayarkan dalam jumlah tetap
dan tidak pernah berubah dari waktu ke waktu. Saham preferen merupakan saham
yang memiliki karakteristik gabungan (hybrid) antara saham biasa dan
obligasi.
Di pasar modal Indonesia, saham preferen tidak
populer. Ada hanya sedikit saham preferen yang diterbitkan perusahaan. Dari
sedikit yang adapun, saham preferen jarang diperdagangkan antar investor.
Perusahaan yang pernah menerbitkan saham preferen di bursa efek Indonesia
relatif sedikit jumlahnya antara lain PT. Century Textile Industry Tbk dan PT.
Mas Murni Indonesia Tbk.
3.3.4
Bukti Right
Bukti right atau hak memesan efek terlebih
dahulu (HMETD) merupakan sekuritas yang memberikan hak kepada pemegang saham
lama untuk membeli saham baru perusahaan pada harga yang telah ditetapkan
selama periode tertentu.
Selama periode waktu terbatas yang disebut
periode pelaksanaan, pemegang right berhak untuk membeli saham baru dengan
membayar sejumlah dana kepada perusahaan melalui perusahaan efek pada suatu
harga pelaksanaan (exercise price) yang telah ditentukan
Bukti right dapat diperjualbelikan antar
investor seperti halnya sekuritas lainnya di bursa efek selama periode waktu
perdagangan yang terbatas. Pelaksanaan hak pembelian saham baru oleh investor yang memegang bukti right akan
ditentukan oleh keuntungan atau kerugian yang akan ditimbulkannya. Dengan kata
lain, bagaimana investor menghitung keuntungan atau kerugian dari perdagangan
bukti right?
Sebagai contoh, anggap seorang investor
membeli bukti right PT Ricky Putra Globalindo pada harga Rp100 per lembar di BEI. Selanjutnya selama
periode pelaksanaan, harga saham Ricky Putra Globalindo mencapai Rp675 per
lembar. Apabila investor tersebut
melaksanakan pembelian saham Ricky Putra Globalindo, maka dia akan memperoleh
keuntungan sebesar Rp75 per lembar saham hanya dalam beberapa hari saja. Rp75 = harga saham Rp675 – (harga pelaksanaan
Rp500 + harga bukti right Rp100).
3.3.5
Waran
Waran (warrant) adalah hak untuk membeli saham
pada waktu dan harga yang sudah ditentukan sebelumnya. Berbeda dengan right
issue, waran biasanya dijual bersamaan dengan sekuritas lain misalnya
obligasi atau saham. Selain itu, periode perdagangan waran adalah jangka
panjang, umumnya antara 3 sampai dengan 5 tahun.
3.4 Sekuritas Di
Pasar Obligasi
Sekuritas yang diperdagangkan di pasar obligasi Indonesia
adalah obligasi perusahaan, obligasi negara, dan obligasi konversi. Obligasi
(bond) dikeluarkan penerbitnya sebagai surat tanda bukti hutang. Obligasi
adalah sekuritas yang memuat janji untuk memberikan pembayaran tetap menurut
jadwal yang telah ditetapkan. Sebutan obligasi semakin dikenal dengan istilah
sekuritas pendapatan tetap (fixed income securities).
ü Jenis Obligasi
Obligasi dapat dibedakan menurut siapa
penerbitnya, yaitu:
1.
Obligasi negara (government
bond), adalah obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah Republik Indonesia.
Di Amerika, obligasi negara seperti ini disebut treasury bonds (T-Bonds).
2.
Obligasi perusahaan atau
obligasi korporasi (corporate bond), adalah obligasi yang diterbitkan
oleh perusahaan baik perusahaan swasta maupun perusahaan negara (BUMN).
ü Karakteristik Obligasi
1.
Nilai nominal (nominal
value atau face value) atau nilai pari (par value).
§ Besarnya nilai rupiah obligasi yang diterbitkan.
2.
Kupon (coupon).
§ Kupon merupakan bunga yang dibayar secara reguler oleh
penerbit obligasi kepada pemegangnya. Kupon obligasi ditetapkan dalam
persentase tahunan dari nilai nominal dan dibayarkan pada interval waktu
tertentu.
3.
Jatuh tempo (maturity).
§ Jatuh tempo merupakan tanggal ketika pemegangnya akan
menerima uang pokok pinjaman yang jumlahnya sebesar nilai nominalnya.
4.
Setelah diterbitkan,
obligasi dapat diperjualbelikan sampai sebelum jatuh tempo antar investor di
bursa efek pada harga pasar yang bisa berbeda dari nilai nominalnya.
5.
Faktor penting bagi
investor sebelum berinvestasi di obligasi adalah mengenal penerbit dan
seluk-beluk obligasi yang diterbitkannya.
6.
Hal itu perlu dilakukan
untuk menaksir besarnya risiko khususnya risiko gagal bayar (default)
yang mungkin dapat dialami investor di masa mendatang.
Soal:
Ibu Niken membeli sebuah obligasi yang baru saja
diterbitkan oleh pemerintah dengan nilai nominal Rp100 juta dan kupon 10 persen
dibayar setengah tahunan. Ibu Niken terus memegang obligasi ini sampai jatuh
tempo pada 3 tahun mendatang.
¡ Berapa banyaknya pembayaran bunga kupon dan kapan
dibayarkan?
¡ Berapa kali kupon seharusnya dibayarkan sampai jatuh
tempo?
¡ Selain kupon, arus kas apalagi yang akan diterima
pemegang obligasi ini?
Jawab:
Ibu Niken sebagai pemegang obligasi akan menerima Rp10
untuk setiap Rp100 dari nilai nominal sebagai pembayaran bunga kupon, atau
sebesar Rp500.000 tiap setengah tahun. Bunga kupon seharusnya diterima sebanyak
6 kali, yaitu setiap setengah tahun, sampai jatuh tempo di akhir tahun ketiga. Pada
waktu jatuh tempo di akhir tahun ketiga, Ibu Niken juga akan menerima pelunasan
pokok pinjaman atau nilai nominal sebesar Rp1 juta
ü Obligasi Konversi
Obligasi konversi merupakan obligasi yang
dapat ditukar dengan saham biasa. Obligasi konversi mencantumkan persyaratan
untuk melakukan konversi. Misalnya setiap obligasi konversi bisa dikonversi menjadi 3 lembar saham biasa mulai
tanggal tertentu sampai dengan tanggal jatuh tempo.
3.5 Sekuritas Di Pasar
Derivatif
Sekuritas
derivatif (turunan) adalah aset finansial yang diturunkan dari saham dan
obligasi, dan bukan dikeluarkan perusahaan atau pemerintah untuk mendapatkan
dana. Ada dua jenis yang penting dari sekuritas derivatif, yaitu:
¡ Kontrak Berjangka (Future Contract)
Kontrak berjangka
merupakan suatu perjanjian yang dibuat hari ini yang mengharuskan adanya
transaksi di masa mendatang. Ada dua
jenis kontrak berjangka:
o Kontrak berjangka
komoditas menggunakan underlying asset yang merupakan aset riil berupa
barang-barang pertanian dan sumber daya alam.
o Kontrak berjangka
finansial menggunakan underlying asset (atau dikenal dengan sebutan
variabel pokok) yang merupakan efek seperti saham atau indeks saham.
¡ Kontrak Opsi (Option Contract).
Kontrak opsi adalah suatu
perjanjian yang memberi pemiliknya hak, tetapi bukan kewajiban, untuk membeli
atau menjual suatu aset tertentu (tergantung pada jenis opsi) pada harga
tertentu selama waktu tertentu.
o Pemilik call
option mempunyai hak untuk membeli aset induk atau aset acuan (underlying
asset) pada harga tetap selama waktu tertentu.
o Pemilik put
option mempunyai hak untuk menjual aset induk pada harga tetap selama waktu
tertentu.
Referensi:
Buku: Portofolio dan Investasi Teori dan Aplikasi.
Pengarang: Prof. Dr. Eduardus Tandelilin, MBA, CWM
Penerbit: KANISIUS



2 komentar
Cari Tiket Pesawat Online Super Cepat dan murah??
BalasHapushttp://selltiket.com
Booking di SELLTIKET.COM aja!!!
CEPAT,….TEPAT,….DAN HARGA TERJANGKAU!!!
Ingin usaha menjadi agen tiket pesawat??
Yang memiliki potensi penghasilan tanpa batas.
Bergabung segera di http://agenselltiket.com
Info lebih lanjut hubungi:
No handphone : 085364558922
PIN : FBSID007
Cari Tiket Pesawat Online Super Cepat dan murah??
BalasHapushttp://selltiket.com
Booking di SELLTIKET.COM aja!!!
CEPAT,….TEPAT,….DAN HARGA TERJANGKAU!!!
Ingin usaha menjadi agen tiket pesawat??
Yang memiliki potensi penghasilan tanpa batas.
Bergabung segera di http://agenselltiket.com
Info lebih lanjut hubungi:
No handphone : 085364558922
PIN : FBSID007