Makalah Ekonomi Mikro Konsep Permintaan
MAKALAH
EKONOMI MIKRO
KONSEP
PERMINTAAN
DOSEN PEMBIMBING :
Dr. Luqman
Hakim
1. IRMA ROSYIDA ( 118 694 248 )
2. ELVINNA WIWIT FM ( 118 694 253 )
3. TAKDIR RIZKI AGUSTIAN ( 118 694 256 )
UNIVERSITAS
NEGERI SURABAYA
FAKULTAS
EKONOMI
JURUSAN
AKUNTANSI
2012
KATA PENGANTAR
Pertama – tama marilah
kita panjatkan puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayahnya kepada kita semua. Tak lupa pula salawat serta salam kami
hantarkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah merangkul kita
dari alam Jahiliyah menuju alam Islamiyah kini.
Tak lupa pula kami
ucapkan terima kasih kepada Bapak Pembimbing Mata Kuliah Ekonomi Mikro yang senantiasa
membimbing kami sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik dan
lancar.
Kami sebagai penulis
mengangkat sebuah judul “Konsep
Permintaan“ sebuah judul yang akan menjelaskan tentang utilitas dan pilihan, serta menjelaskan tentang
asusmsi – asumsi mengenai utilitas.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih belum sempurna dan
perlu perbaikan. Dengan semangat amar makruf dan upaya meningkatkan ilmu
pengetahuan, kami senantiasa mengharapkan kontribusi pemikiran dan saran
perbaikan demi kelengkapan dan kesempurnaan makalah ini. Semoga dapat memberi
manfaat dan hanya kepada Allah SWT kami memohon agar meridhoi segala upaya kita
bersama, amin ya rabbal ‘alamin.
Wassalam. Surabaya, 27 Februari
2012
DAFTAR ISI
Kata Pengantar……………………………………………………………………………..
Daftar Isi……………………………………………………………………………………
Bab I Pendahuluan
v
Latar
Belakang……………………………………………………………………..
v
Rumusan Masalah…………………………………………………………………
v
Tujuan……………………………………………………………………………...
v
Manfaat…………………………………………………………………………….
Bab II Pembahasan
A.
Utilitas……………………………………………………………………………..
1. Teori Nilai Guna……………………………………………………………..
1.1. Pengertian Teori
Nilai Guna ( Utility )……………………………….
2. Pemaksimuman Nilai Guna………………………………………………….
3. Prinsip Teori Utilitas………………………………………………………...
4. Nilai Guna, Bentuk dan Berhentinya Kebiasaan…………………………….
B.
Asumsi
– Asumsi Mengenai Utilitas……………………………………………...
1. Asumsi Rasionalitas………………………………………………………….
2. Asumsi Perfect Knowledge…………………………………………………..
- Pendekatan Kardinal………………………………………………………
- Pendekatan Ordinal………………………………………………………..
- Persamaan Kardinal dan Ordinal Asumsi Perfect Knowledge……………
-
Contoh Soal……………………………………………………………….
Bab III Penutup
1.
Kesimpulan
…………………………………………………………………………..
Daftar Pustaka……………………………………………………………………………..
Bab I Pendahuluan
v Latar Belakang
Setiap individu
ataupun rumah tangga pasti mempunyai perkiraan tentang berapa pendapatanya
dalam suatu periode tertentu, misalkan satu tahun. Dan mereka juga pasti
mempunyai suatu gambaran tentang barang - barang atau jasa - jasa apa saja yang
akan mereka beli. Tugas setiap rumah tangga adalah bagaimana mereka bisa
memaksimalkan pendapatan mereka yang terbatas untuk mendapatkan dan memenuhi
semua kebutuhan sehingga bisa mencapai kesejahteraan. Tapi ternyata hampir
tidak satupun individu atau rumah tangga yang berhasil dalam tugasnya tersebut.
Sampai pada tingkat tertentu, kegagalan tersebut disebabkan oleh adanya
keterangan - keterangan yang tidak tepat dan ada juga alasan - alasan lain
seperti pembelian - pembelian secara impulsif.
Segala usaha
yang dilakukan untuk mencapai kepuasan maksimum dengan pendapatan yang terbatas
inilah yang mempengaruhi permintaan konsumen terhadap barang dan jasa di pasar.
Untuk menganalisa pembentukan permintaan konsumen secara lebih akurat, maka
akan digunakan beberapa asumsi yang akan menyederhanakan realitas ekonomi.
Disini kita akan mempelajari tentang teori nilai guna ( utility ).
Secara
historis, teori nilai guna (utility) merupakan teori yang terlebih dahulu
dikembangkan untuk menerangkan kelakuan individu dalam memilih barang-barang
yang akan dibeli dan dikonsumsinya. Dapat dilihat bahwa analisis tersebut telah
memberi gambaran yang cukup jelas tentang prinsip-prinsip pemaksimuman kepuasan
yang dilakukan oleh orang-orang yang berfikir secara rasional dalam memilih
berbagai barang keperluannya. Disini kita juga akan mempelajari bagaimana suatu
barang bisa memmberikan kenikmatan terhadap individu dan bagaimana barang itu
akhirnya sama sekali tidak bisa memberikan kenikmatan terhadap seseorang.
v
Rumusan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang tersebut maka timbul permasalahan yang merupakan titik fokus
akan penyelesaian makalah ini yang di rumuskan sebagai berikut :
1.
Menguraikan
Tentang Utilitas dan Pilihan
2.
Menjelaskan
Asumsi – Asumsi Mengenai Utilitas
v Tujuan
1. Mampu Menguraikan Tentang Utilitas dan Pilihan
2. Mampu Menjelaskan Asumsi – Asumsi Mengenai Utilitas
v Manfaat
1. Mengetahui Tentang Utilitas dan Pilihan
2. Mengetahui Asumsi – Asumsi Mengenai Utilitas
Bab II Pembahasan
A.
Utilitas .
Teori nilai guna atau utility
yaitu kepuasan atau kenikmatan yang
diperoleh seseorang dari megkonsumsikan barang-barang. Kalau kepuasan itu
semakin tinggi maka semakin tinggilah nilai gunanya atau utilitinya.
1.
Teori
Nilai Guna ( Utility )
1.1 Pengertian Teori Nilai Guna
( utility )
Teori
nilai guna atau utility yaitu teori ekonomi yang mempelajari kepuasan atau
kenikmatan yang diperoleh seorang konsumen dari mengkonsumsikan barang-barang.
Kalau kepuasan itu semakin tinggi maka semakin tinggi nilai guna atau
utility-nya. Sebaliknya semakin rendah kepuasan dari suatu barang maka
utilitynya semakin rendah pula.
Nilai
guna dibedakan diantara dua pengertian:
·
Marginal
utility (kepuasan marginal). Yaitu pertambahan/pengurangan kepuasan sebagai
akibat adanya pertambahan/pengurangan penggunaan satu unit barang tertentu.
Hukum marginal utility yang semakin menurun / Law of Diminishing Marginal
Utility :“ apabila tambahan nilai guna yang akan diperoleh dari seseorang dari
mengkonsumsi suatu barang akan menjadi semakin sedikit apabila orang tersebut
terus menerus menambah konsumsinya dan pada akhirnya tambahan nilai guna
tersebut akan menjadi negative”
Konsep
nilai guna (utility) bisa menjelaskan kelemahan berupa paradok antara kegunaan
suatu barang dengan harganya. Seperti tentang durian, dimana sampai titik
tertentu Anda tidak mau lagi memakannya, bahkan jika buah durian itu diberikan
secara gratis. Hal ini menunjukkan bahwa tambahan kepuasan yang diberikan dari
tiap tambahan unit barang yang dikonsumsi semakin berkurang. Inilah yang
disebut Law of Diminishing Marginal Utility.
Contoh
; Surplus konsumen terjadi jika harga yang dibayarkan oleh konsumen terhadap
suatu barang lebih tinggi dari harga pasarnya. Surplus konsumen akan terus naik
jika konsumen terus membeli produk sampai unit tertentu dan menghentikannya,
karena jika diteruskan konsumen tidak akan mendapatkan surplus lagi.
- Total utility (total utility). Yaitu keseluruhan kepuasan yang diperoleh dari mengkonsumsi sejumlah barang-barang tertentu.
Contoh : Nilai guna dari
mengkonsumsikan 10 buah apel meliputi seluruh kepuasan yang diperoleh dari
memakan semua mangga tersebut.
2.
Pemaksimuman Nilai Guna
Setiap orang berusaha
memperoleh dan untuk memaksimumkan kepuasan dari barang yang dikonsumsinya.
Jika hanya terdapat 1 jenis barang pemaksimuman nilai guna tidaklah rumit dalam
pengukurannya. Tetapi pemaksimuman nilai guna akan rumit apabila lebih dari 1
jenis barang. Kerumitan tersebut diakibatkan oleh adanya perbedaan harga
masing-masing barang. Oleh karena itu syarat pemaksimuman nilai guna tidak lain
adalah setiap rupiah yang dikeluarkan untuk membeli unit tambahan dari berbagai
jenis barang,harus memberikan nilai guna yang sama besarnya.
Contoh : ada 2 barang
A dan B, barang A harganya 3x barang B sedangkan nilai guna marginalnya sama
antara nilai barang A dan B. Syarat lain dari pemaksimuman nilai guna adalah
apabila perbandingan harga dan nilai guna masing-masing barang itu adalah sama.
Misalnya makanan dan pakaian,1 unit makanan hargnya 500 dan 1 unit pakaian
harganya 50.000 nilai guna marginal keduanya untuk makanan adalah 10 dan unuk
pakaian adalah 50.Andai kata konsumen tesebut mempunyai uang 50.000 kepada
barang apakah akan dibelanjakan?
MU.Barang A = MU Barang B
P.A = P.B
P= price
MU = marginal utility
P.A = P.B
P= price
MU = marginal utility
Ada dua faktor yang menyebabkan permintaan ke atas suatu
barang berubah sekiranya harga barang itu mengalami perubahan:
1.
Efek Penggantian
Perubahan harga suatu
barang akan mengubah nilai marjinal utility/rupiah dari barang yang mengalami
perubahan harga tersebut apabila harga suatu barang makin naik maka nilai
marginal rupiah akan semakin rendah dan sebaliknya apabila suatu barang
mengalami penurunan harga maka nilai marginal utility/rupiah akan semakin
tinggi. Beberapa alasan yang menyebabkan suatu barang harganya menjadi mahal
adalah kelangkaan dan biaya produksi. Air jauh lebih mudah didapat dari barang
lain, intan misalnya. Sehingga wajar jika intan lebih mahal daripada air karena
intan jauh lebih langka. Demikian juga dengan biaya produksi untuk mendapatkan
air jauh lebih murah daripada biaya produksi intan.
2.
Efek pendapatan
Efek pendapatan
terjadi dari berubahnya harga suatu barang (naik atau turun). Jika harga barang
X naik, maka tambahan kepuasan dari mengkonsumsi satu unit barang tersebut
menjadi turun per harga barangnya. Hal ini menyebabkan turunnya permintaan akan
barang X. Sebaliknya jika harga barang Y turun, maka tambahan kepuasan dari
mengkonsumsi satu unit barang tersebut menjadi naik per harganya, sehingga
permintaan akan barang Y naik.
Jika pendapatan tidak
berubah (tetap) sedangkan harga barang mengalami kenaikan maka pendapatan
rillnya mengalami penurunan.
3. Prinsip teori Utilitas:
1.Barang (goods) yang di konsumsi mempunyai sifat semakin banyak akan semakin besar manfaatnya. Dengan demikian, jika sesuatu yang bila dikonsumsi semakin banyak justru mengurangi kenikmatan hidup (bad) tidak dapat didefinisikan sebagai barang, misalnya penyakit.
2.Utilitas (utility) adalah manfaat yang diperoleh seseorang karena ia mengkonsumsi barang, Dengan demikian Utilitas merupakan ukuran manfaat (kepuasan) bg seseorang karena mengkonsumsi barang. Keseluruhan manfaat yang diperoleh konsumen karena mengkonsumsi sejumlah barang disebut dengan Utilitas total (Total Utility) Utilitas marjinal (marginal utility) adalah tambahan manfaat yang diperoleh karena menambah satu unit konsumsi barang tertentu.
3.Pada teori Utilitas berlaku Hukum Pertambahan Manfaat yang Makin Menurun (The law of Diminishing marginal utility) yaitu bahwa awalnya sesorang konsumen mengkonsumsi satu unit barang tertentu akan memperoleh atambahan Utilitas (manfaat) yang besar, akan tetapi tambahan unit konsumsi barang tersebut akan memberikan tambahan Utilitas (manfaat yang semakin menurun, dan bahkan dapat memberikan manfaat negatif. Dengan kata lain, Utilitas marjinal (MU) mula-mula adalah besar, dan semakin menurun dengan meningkatnya unit barang yang dikonsumsi.
4.Pada teori Utilitas berlaku konsistensi preferensi, yaitu bahwa konsumen dapat secara tuntas (complete) menentukan rangking dan ordering pilihan (preference, choice) diantara berbagai paket barang yang tersedia. Konsep ini disebut dengan Transitivity dan rasionalitas. Misalnya, jika A lebih disuka dari B atau A>B, dan B lebih disukai dari C atau B>C, maka harus berlaku A lebih disuka dari C, atau A>C.
5.Pada teori Utilitas diasumsikan bahwa konsumen mempunyai pengetahuan yang sempurna berkaitan dengan keputusan konsumsinya. Mereka dianggap (diasumsikan) mengetahui persis kualitas barang, kapasitas produksi, teknologi yang digunakan dsb.
1.Barang (goods) yang di konsumsi mempunyai sifat semakin banyak akan semakin besar manfaatnya. Dengan demikian, jika sesuatu yang bila dikonsumsi semakin banyak justru mengurangi kenikmatan hidup (bad) tidak dapat didefinisikan sebagai barang, misalnya penyakit.
2.Utilitas (utility) adalah manfaat yang diperoleh seseorang karena ia mengkonsumsi barang, Dengan demikian Utilitas merupakan ukuran manfaat (kepuasan) bg seseorang karena mengkonsumsi barang. Keseluruhan manfaat yang diperoleh konsumen karena mengkonsumsi sejumlah barang disebut dengan Utilitas total (Total Utility) Utilitas marjinal (marginal utility) adalah tambahan manfaat yang diperoleh karena menambah satu unit konsumsi barang tertentu.
3.Pada teori Utilitas berlaku Hukum Pertambahan Manfaat yang Makin Menurun (The law of Diminishing marginal utility) yaitu bahwa awalnya sesorang konsumen mengkonsumsi satu unit barang tertentu akan memperoleh atambahan Utilitas (manfaat) yang besar, akan tetapi tambahan unit konsumsi barang tersebut akan memberikan tambahan Utilitas (manfaat yang semakin menurun, dan bahkan dapat memberikan manfaat negatif. Dengan kata lain, Utilitas marjinal (MU) mula-mula adalah besar, dan semakin menurun dengan meningkatnya unit barang yang dikonsumsi.
4.Pada teori Utilitas berlaku konsistensi preferensi, yaitu bahwa konsumen dapat secara tuntas (complete) menentukan rangking dan ordering pilihan (preference, choice) diantara berbagai paket barang yang tersedia. Konsep ini disebut dengan Transitivity dan rasionalitas. Misalnya, jika A lebih disuka dari B atau A>B, dan B lebih disukai dari C atau B>C, maka harus berlaku A lebih disuka dari C, atau A>C.
5.Pada teori Utilitas diasumsikan bahwa konsumen mempunyai pengetahuan yang sempurna berkaitan dengan keputusan konsumsinya. Mereka dianggap (diasumsikan) mengetahui persis kualitas barang, kapasitas produksi, teknologi yang digunakan dsb.
4.
Nilai
Guna, Bentuk Dan Berhentinya Kebiasaan.
Menurut
M Abraham Garcia-Torres, Nilai Guna pada barang yang sama, dipengaruhi oleh
tiga hal, yaitu :
- Jangka waktu konsumsi barang yang sama.
- Daya ingat konsumen
- Kualitas barang
- Jangka Waktu Konsumsi Barang
Jika jangka waktu konsumsi
cukup lama maka ingatan konsumen harus bekerja lebih keras untuk membangkitkan
pengalaman yang lalu. kemudian konsumen akan dapat menikmati konsumsi
berikutnya. karena jangka waktu berkurang, konsumen akan merasakan kebosanan
pada barang yang sama.
- Daya Ingat Konsumen
Memori yang lebih
tinggi dan waktu yang lebih lama diperlukan antara konsumsi untuk barang yang
sama. Pembuktian fakta ini, adalah bentuk kebiasaan yang lebih kuat antara
orang dewasa dan anak - anak. Dua kelompok ini dapat mengkonsumsi barang yang
sama , atau melakukan hal yang sama tapi mengalami kebosanan setelah jangka
waktu yang berbeda, yaitu orang dewasa lebih cepat bosan daripada anak- anak.
- Kualitas Barang
Peningkatan kualitas
barang (ceteris paribus) akan menyebabkan peningkatan nilai guna pengalaman.
Lalu bagaimana kebiasaan terbentuk ? Konsumen
mempelajari seberapa lama waktu yang dia perlukan antara konsumsi yang satu
dengan berikutnya. jika dia bisa mengkonsumsi barang tersebut selamaya.
Bagaimana dia bisa menghentikan kebiasaan tersebut?
Jika dalam proses perkembangan kebiasaan dia berbuat kesalahan dan menurunkan
waktu konsumsi barang , kemudian otaknya akan mengembangkan rasa bosan pada
barang tersebut. Rasa bosan tersebut mungkin semacam dia tidak ingin
mengkonsumsi barang itu lagi dalam jangka waktu yang lama dan selamanya. Pada
poin ini dia kan menghentikan kebiasaan . berdasarkan alasan ini kita bisa
mengelompokan kebiasaan konsumsi ini sebagai berikut :
4.1
Kecanduan
: yaitu tindakan konsumsi barang dalam jangka waktu yang lama dan tidak bisa
dihindari. kecanduan biasanya terjadi pada Narkoba dan berjudi. tapi beberapa
masyarakat masih menerima beberapa kecanduan seperti pada teh, kopi, rokok dan
seterusya yang dianggap sebagai kebiasaan.
4.2
Kebiasaan
abadi : yaitu tindakan konsumsi barang dimana konsumen belajar bagaimana untuk
menghabiskanya. Ini berarti dia telah mencapai jangka waktu yang tepat untuk
mengkonsumsi barang tersebut tanpa menjadi bosan.
4.3
kebiasaan
sesaat : yaitu tindakan konsumsi terhadap suatu barang yang akan memberikan
nilai guna kepada konsumen hanya untuk sesekali. setelah itu dia akan bosan
pada barang tersebut. kalau sudah begitu dia akan memiliki dua pilihan, tidak
menggunakan barang itu lagi atau mencoba untuk mencari barang sejenis dengan
kualitas yang lebih baik dan masih memberikan dia nilai guna.
4.1
Mencari
kenikmatan baru : konsumen membeli hanya karena rasa ingin tahu, dan akan
menikmati sampai kesenanganya hilang.ketika kesenanganya berlalu maka barang
itu sudah tidak berguna lagi bagi dia.
Kebiasaan abadi bisa
berubah menjadi kebiasaan sesaat jika dia melakukan kesalahan dengan
mengkonsumsi barang tersebut terlalu banyak dalam jangka waktu yang singkat.
begitu pula kebiasaan sesaat bisa menjadi Kebiasaan abadi jika dia berusaha
menggunakanya dengan semestinya . Dengan kata lain klasifikasi mungkin saja
berubah setiap saat . Tapi secara sederhan kita bisa menyimpulkan bahwa jangka
waktu antara konsumsi barang yang sama adalah tetap. Dengan begitu kita bisa
memahami dinamika Preferensi.
B. Asumsi – Asumsi Mengenai Utilitas
Ada dua asumsi menonjol yang sering dipakai oleh para
ekonom terkait dengan teori konsumsi yaitu:
1.
Asumsi rasionalitas, artinya bahwa seorang konsumen senantiasa berusaha
menggunakan pedapatannya yang terbatas, untuk memperoleh kokmbinasi
barang-barang dan jasa-jasa konsumsi yang menurut perkiraannya akan
mendatangkan kepuasan yang maksimal.
2.
Asumsi Perfect Knowledge atau pengetahuan yang sempurna, khususnya pengetahuan
mengenai macam-macam barang dan jasa komunikasi yang tersedia di pasar, harga
masing-masing baarang dan jasa, besarnya pendapatan yang mereka peroleh, dan
cita rasa yang mereka inginkan
Selain itu ada beberapa pendekatan mengenai terbentuknya
fungsi permintaan konsumen dengan disertai asumsi-asumsinya. Pendekatan-pendekatan
tersebut antara lain:
1. Pendekatan Kardinal (Cardinal Approach)
2. Pendekatan
Ordinal (Ordinal Approach)
-
Pendekatan Kardinal
Kepuasan seorang konsumen dalam
mengkonsumsi suatu barang dapat diukur dengan satuan kepuasan misalnya mata
uang. Setiap tambahan satu unit barang yang dikonsumsi akan menambah kepuasan
yang diperoleh konsumen tersebut dalam jumlah tertentu.. Asumsi dari pendekatan
ini adalah :
a. Kepuasan
konsumsi dapat diukur dengan satuan ukur, util.
b. Makin banyak
barang dikonsumsi makin besar kepuasan.
c.Terjadi hukum
The law of deminishing Marginal Utility pada tambahan kepuasan
setiap satu satuan. Setiap tambahan kepuasan yang diperoleh dari setiap unit
tambahan konsumsi semakin kecil.
d.Tambahan
kepuasan untuk tambahan konsumsi 1 unit barang bisa dihargai dengan uang,
sehingga makin besar kepuasan makin mahal harganya.
Pendekatan kardinal biasa disebut
juga sebagai Daya Guna Marginal.
Asumsi seorang
konsumen :
a.
Konsumen
rasional yaitu bertujuan memaksimalkan kepuasannya dengan batasan
pendapatannya.
b.
Dimnishing
marginal utility artinya tambahan
utilitas yang diperoleh konsumen makin menurun dengan bertambahnya komsumsi
dari komoditas tersebut.
c.
Pendapatan
konsumen tetap.
d.
Contstant
marginal utility of money, artinya
uang mempunyai nilai subjektif yang tetap.
e.
Total
utility adalah additive dan independent.
Additive artinya
daya guna dari sekumpulan barang adalah fungsi dari kuantitas masing-masing
barang yang dikonsumsi. Misalnya: U = f (X1,X2,...,Xn)
U
= U1 (X1) + U2 (X2) + ……Un(Xn).
Sedangkan
Independent mengandung pengertian
bahwa yang daya guna X1, tidak dipengaruhi oleh tindakan
mengkonsumsi barang X2, X3, X4,….,
X n begitu juga sebaliknya.
f.
Kepuasan
konsumen dapat diukur.
-
Pendekatan Ordinal
Kelemahan pendekatan kardinal terletak pada anggapan yang digunakan bahwa
kepuasan konsumen dari mengkonsumsi barang dapat diukur dengan satuan kepuasan.
Pada kenyataannya pengukuran semacam ini sulit dilakukan.
Pendekatan ordinal mengukur kepuasan konsumen dengan angka ordinal
(relatif). Tingkat kepuasan konsumen dengan menggunakan kurva indiferens (kurva
yg menunjukkan tingkat kombinasi jumlah barang yang dikonsumsi yang
menghasilkan tingkat kepuasan yang sama).
Pendakatan ini
muncul karena adanya keterbatasan - keterbatasan yang ada pada pendekatan
cardinal, meskipun bukan berarti pendekatan cardinal tidak memiliki kelebihan.Asumsi-asumsi dasar dari pendekatan ini adalah :
a.
Pengetahuan
yang sempurna (full Knowledge)
1. Konsumen menyadari
adanya barang dan jasa
2.
Konsumen
mempunyai respon atau reaksi (tanggap) terhadap adanya barang dan jasa tersebut, sehingga konsumen
lebih menyukai barang (jasa) tertentu daripada barang (jasa) lain.
3.
Konsumen
mempunyai pendapatan sejumlah uang tertentu yang menyebabkan tanggapan (respon)
menjadi nyata di pasar.
b. Fungsi selera atau barang yang lebih disukai (Preference Function)
1)
Urutan
peringkat, yaitu konsumen mempunyai daftar urutan barang atau kelompok barang
mulai dari yang paling disukai sampai yang paling kurang disukai.
2)
Dua
macam barang atau kelompok barang A dan B ada tiga kemungkinan:
-
A
lebih disukaki daripada B
-
B
lebih disukaki daripada A
-
A
dan B sama-sama disukai
3)
Transivity,
yaitu konsumen konsisten dalam mengambil keputusan pemilihan antar kombinasi
kommoditi. Konsumen sanggup membandingkan kelompok barang atau memilih barang.
Semua kumpulan kombinasi yang tersedia bagi konsumen adalah berhubungan. A
lebih disukai dari B, dan B lebih disukai dari C, maka A lebih disukai dari C.
4)
Unsatiaty
atau Unsaturity (tidak jenuh) dan konsisten yaitu konsumen dianggap tidak
pernah terpuaskan. Konsumen menyukai jumlah barang yang lebih banyak. Misalnya
bila A lebih dipilih daripada B karena A lebih banyak dan lebih disukai
daripada B, dan tidak berlaku sebaliknya B lebih dipilih daripada A.
-
Persamaan
Kardinal dan Ordinal
Persamaan
cardinal dan ordinal yaitu sama-sama menjelaskan tindakan konsumen dalam
mengkonsumsi barang-barang yang harganya tertentu dengan pendapatan konsumen
yang tertentu pula agar konsumen mencapai tujuannya (maximum utility).
-
Perbedaan
Kardinal dan Ordinal
Ø
Nilai
guna (Utility) Kardinal menganggap bahwa besarnya utility dapat dinyatakan
dalam bilangan/angka. Sedangkan analisis ordinal besarnya utility dapat
dinyatakan dalam bilangan / angka.
Ø
Analisis
cardinal mengunakan alat analisis yang dinamakan marginal utiliy (pendekatan
marginal). Sedangkan analisis ordinal menggunakan analisis indifferent curve
atau kurva kepuasan sama .
-
Contoh Soal
1.
Laidback
Al mengambil utilitas dari tiga barang : musik (M), anggur (W), dan keju ©. Fungsi utilitasnya memiliki bentuk linier
yang sederhana
Utilitas = U (M,W,C) = M + 2W + 3C
a)
Dengan asumsi
konsumsi musik Al tetap pada 10, gambar kurva kepuasan sama untuk W dan C untuk
U = 40 dan U = 70
Jawab
Jika U =
40 Jika U =
70
40 =
10 + 2W + 3C 70 = 10 +
2W + 3C
40 –
10 = 2W + 3C 70 – 10 =
2W + 3C
30 =
2W + 3C 60 = 2W
+ 3C
Untuk gambar :
|
|
Melalui persamaan 30 = 2W + 3C
|
|
|
C = 10
|
|
Jika C = 0 ≥ 2W = 60
W = 30
Jika W = 0 ≥ 60 = 3C
C = 20
b)
Perlihatkan bahwa
MRS Al dari anggur terhadap keju konstan untuk semua nilai W dan C di kurva kepuasan sama yang dihitung
dalam bagian (a).
Jawab
30 = 2W + 3C 60 = 2W + 3C
3C = 2W – 30 3C = 2W + 60
C = 2/3W – 30 C = 2/3W – 20
MRS = 2/3
Jadi, MRS dari
anggur terhadap keju tidak berubah / tetap walaupun ada perubahan U.
c)
Misalkan konsumsi
musik Al meningkat menjadi 20. Bagaimana hal ini mengubah jawaban anda terhadap
bagian (a) dan (b)?. Terangkan hasil anda secara intuitif.
Jawab
Jika U = 40 Jika
U = 70
40 = 20 + 2W + 3C 70 = 20 + 2W
+ 3C
40 – 20 = 2W + 3C 70 – 20 = 2W
+ 3C
20 = 2W + 3C 50 = 2W +
3C
|
|
Melalui persamaan 20 = 2W + 3C
|
W = 10
|
C = 6,67
|
20 = 2W + 3C 50 = 2W
+ 3C
3C = 2W – 20 3C = 2W
+ 50
|
|
|
MRS = 2/3
Jadi, MRS dari anggur terhadap keju tidak berubah / tetap walaupun ada
perubahan konsumsi musik mnjadi 20.
BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan
a.
Teori nilai
guna atau utility yaitu kepuasan
atau kenikmatan yang diperoleh seseorang dari megkonsumsikan barang-barang.
Kalau kepuasan itu semakin tinggi maka semakin tinggilah nilai gunanya atau
utilitinya.
Pemaksimuman Nilai Guna
b.
Pemaksimuman nilai guna: setiap orang berusaha memperoleh dan untuk
memaksimumkan kepuasan dari barang yang dikonsumsinya. Jika hanya terdapat 1
jenis barang pemaksimuman nilai guna tidaklah rumit dalam pengukurannya. Tetapi
pemaksimuman nilai guna akan rumit apabila lebih dari 1 jenis barang.
c.
Prinsip Teori Utilitas
1.Barang (goods) yang di konsumsi mempunyai sifat semakin banyak akan
semakin besar manfaatnya.
2.Utilitas (utility) adalah manfaat yang diperoleh seseorang karena ia mengkonsumsi barang, Dengan demikian Utilitas merupakan ukuran manfaat (kepuasan) bg seseorang karena mengkonsumsi barang.
3.Pada teori Utilitas berlaku Hukum Pertambahan Manfaat yang Makin Menurun (The law of Diminishing marginal utility) yaitu bahwa awalnya sesorang konsumen mengkonsumsi satu unit barang tertentu akan memperoleh atambahan Utilitas (manfaat) yang besar, akan tetapi tambahan unit konsumsi barang tersebut akan memberikan tambahan Utilitas (manfaat yang semakin menurun, dan bahkan dapat memberikan manfaat negatif.
2.Utilitas (utility) adalah manfaat yang diperoleh seseorang karena ia mengkonsumsi barang, Dengan demikian Utilitas merupakan ukuran manfaat (kepuasan) bg seseorang karena mengkonsumsi barang.
3.Pada teori Utilitas berlaku Hukum Pertambahan Manfaat yang Makin Menurun (The law of Diminishing marginal utility) yaitu bahwa awalnya sesorang konsumen mengkonsumsi satu unit barang tertentu akan memperoleh atambahan Utilitas (manfaat) yang besar, akan tetapi tambahan unit konsumsi barang tersebut akan memberikan tambahan Utilitas (manfaat yang semakin menurun, dan bahkan dapat memberikan manfaat negatif.
4.Pada teori Utilitas berlaku konsistensi preferensi, yaitu bahwa konsumen
dapat secara tuntas (complete) menentukan rangking dan ordering pilihan
(preference, choice) diantara berbagai paket barang yang tersedia.
5.Pada teori Utilitas diasumsikan bahwa konsumen mempunyai pengetahuan yang
sempurna berkaitan dengan keputusan konsumsinya. Mereka dianggap (diasumsikan)
mengetahui persis kualitas barang, kapasitas produksi, teknologi yang digunakan
dsb.
d. Menurut M Abraham Garcia-Torres, Nilai Guna pada
barang yang sama, dipengaruhi oleh tiga hal, yaitu :
-
Jangka
waktu konsumsi barang yang sama.
-
Daya
ingat konsumen
-
Kualitas
barang
e.
Asumsi
rasionalitas, artinya bahwa seorang
konsumen senantiasa berusaha menggunakan pedapatannya yang terbatas, untuk
memperoleh kokmbinasi barang-barang dan jasa-jasa konsumsi yang menurut
perkiraannya akan mendatangkan kepuasan yang maksimal.
f.
Asumsi
Perfect Knowledge atau pengetahuan yang sempurna, khususnya pengetahuan
mengenai macam-macam barang dan jasa komunikasi yang tersedia di pasar, harga
masing-masing baarang dan jasa, besarnya pendapatan yang mereka peroleh, dan
cita rasa yang mereka inginkan.
Daftar
Pustaka
Sukirno,
Sadono. 2003. Penganatar Teori
Mikroekonomi. Edisi Ketiga. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Machfudz,
Masyhuri. 2007. Dasar-dasar Ekonomi Mikro.
Jakarta: Prestasi Pustaka.




1 komentar
Ijin Copas ya buat perbandingan
BalasHapus