Makalah Ekonomi Mikro Konsep Permintaan

by - April 09, 2012


MAKALAH EKONOMI MIKRO
KONSEP PERMINTAAN
DOSEN PEMBIMBING :
Dr. Luqman Hakim


 
 1. IRMA ROSYIDA ( 118 694 248 )
 2. ELVINNA WIWIT FM ( 118 694 253 )
 3. TAKDIR RIZKI AGUSTIAN ( 118 694 256 )



UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
FAKULTAS EKONOMI
JURUSAN AKUNTANSI
2012






KATA PENGANTAR
Pertama – tama marilah kita panjatkan puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya kepada kita semua. Tak lupa pula salawat serta salam kami hantarkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah merangkul kita dari alam Jahiliyah menuju alam Islamiyah kini.
Tak lupa pula kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Pembimbing Mata Kuliah Ekonomi Mikro yang senantiasa membimbing kami sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik dan lancar.
Kami sebagai penulis mengangkat sebuah judul “Konsep Permintaan“ sebuah judul yang akan menjelaskan tentang utilitas dan pilihan, serta menjelaskan tentang asusmsi – asumsi mengenai utilitas.
            Kami menyadari bahwa makalah ini masih belum sempurna dan perlu perbaikan. Dengan semangat amar makruf dan upaya meningkatkan ilmu pengetahuan, kami senantiasa mengharapkan kontribusi pemikiran dan saran perbaikan demi kelengkapan dan kesempurnaan makalah ini. Semoga dapat memberi manfaat dan hanya kepada Allah SWT kami memohon agar meridhoi segala upaya kita bersama, amin ya rabbal ‘alamin.

Wassalam.                                                                   Surabaya, 27 Februari 2012








DAFTAR ISI
Kata Pengantar……………………………………………………………………………..
Daftar Isi……………………………………………………………………………………
Bab I Pendahuluan
v  Latar Belakang……………………………………………………………………..
v  Rumusan  Masalah…………………………………………………………………
v  Tujuan……………………………………………………………………………...
v  Manfaat…………………………………………………………………………….
Bab II Pembahasan
A.    Utilitas……………………………………………………………………………..
1.      Teori Nilai Guna……………………………………………………………..
1.1.  Pengertian Teori Nilai Guna ( Utility )……………………………….
2.      Pemaksimuman Nilai Guna………………………………………………….
3.      Prinsip Teori Utilitas………………………………………………………...
4.      Nilai Guna, Bentuk dan Berhentinya Kebiasaan…………………………….
B.     Asumsi – Asumsi  Mengenai Utilitas……………………………………………...
1.      Asumsi Rasionalitas………………………………………………………….
2.      Asumsi Perfect Knowledge…………………………………………………..
-       Pendekatan Kardinal………………………………………………………
-       Pendekatan Ordinal………………………………………………………..
-       Persamaan Kardinal dan Ordinal Asumsi Perfect Knowledge……………
-       Contoh Soal……………………………………………………………….
Bab III Penutup
1.      Kesimpulan …………………………………………………………………………..
Daftar Pustaka……………………………………………………………………………..



Bab I Pendahuluan
v Latar Belakang

Setiap individu ataupun rumah tangga pasti mempunyai perkiraan tentang berapa pendapatanya dalam suatu periode tertentu, misalkan satu tahun. Dan mereka juga pasti mempunyai suatu gambaran tentang barang - barang atau jasa - jasa apa saja yang akan mereka beli. Tugas setiap rumah tangga adalah bagaimana mereka bisa memaksimalkan pendapatan mereka yang terbatas untuk mendapatkan dan memenuhi semua kebutuhan sehingga bisa mencapai kesejahteraan. Tapi ternyata hampir tidak satupun individu atau rumah tangga yang berhasil dalam tugasnya tersebut. Sampai pada tingkat tertentu, kegagalan tersebut disebabkan oleh adanya keterangan - keterangan yang tidak tepat dan ada juga alasan - alasan lain seperti pembelian - pembelian secara impulsif.
Segala usaha yang dilakukan untuk mencapai kepuasan maksimum dengan pendapatan yang terbatas inilah yang mempengaruhi permintaan konsumen terhadap barang dan jasa di pasar. Untuk menganalisa pembentukan permintaan konsumen secara lebih akurat, maka akan digunakan beberapa asumsi yang akan menyederhanakan realitas ekonomi. Disini kita akan mempelajari tentang teori nilai guna ( utility ).
Secara historis, teori nilai guna (utility) merupakan teori yang terlebih dahulu dikembangkan untuk menerangkan kelakuan individu dalam memilih barang-barang yang akan dibeli dan dikonsumsinya. Dapat dilihat bahwa analisis tersebut telah memberi gambaran yang cukup jelas tentang prinsip-prinsip pemaksimuman kepuasan yang dilakukan oleh orang-orang yang berfikir secara rasional dalam memilih berbagai barang keperluannya. Disini kita juga akan mempelajari bagaimana suatu barang bisa memmberikan kenikmatan terhadap individu dan bagaimana barang itu akhirnya sama sekali tidak bisa memberikan kenikmatan terhadap seseorang.








v  Rumusan Masalah
     Berdasarkan latar belakang tersebut maka timbul permasalahan yang merupakan titik fokus akan penyelesaian makalah ini yang di rumuskan sebagai berikut :
1.      Menguraikan Tentang Utilitas dan Pilihan
2.      Menjelaskan Asumsi – Asumsi Mengenai Utilitas

v  Tujuan
1.      Mampu Menguraikan Tentang Utilitas dan Pilihan
2.      Mampu Menjelaskan Asumsi – Asumsi Mengenai Utilitas

v  Manfaat
1.      Mengetahui Tentang Utilitas dan Pilihan
2.      Mengetahui Asumsi – Asumsi Mengenai Utilitas



Bab II Pembahasan

A.   Utilitas .
Teori nilai guna atau utility yaitu kepuasan atau kenikmatan yang diperoleh seseorang dari megkonsumsikan barang-barang. Kalau kepuasan itu semakin tinggi maka semakin tinggilah nilai gunanya atau utilitinya.
1.        Teori Nilai Guna ( Utility )
1.1 Pengertian Teori Nilai Guna ( utility )
Teori nilai guna atau utility yaitu teori ekonomi yang mempelajari kepuasan atau kenikmatan yang diperoleh seorang konsumen dari mengkonsumsikan barang-barang. Kalau kepuasan itu semakin tinggi maka semakin tinggi nilai guna atau utility-nya. Sebaliknya semakin rendah kepuasan dari suatu barang maka utilitynya semakin rendah pula.
Nilai guna dibedakan diantara dua pengertian:
·               Marginal utility (kepuasan marginal). Yaitu pertambahan/pengurangan kepuasan sebagai akibat adanya pertambahan/pengurangan penggunaan satu unit barang tertentu. Hukum marginal utility yang semakin menurun / Law of Diminishing Marginal Utility :“ apabila tambahan nilai guna yang akan diperoleh dari seseorang dari mengkonsumsi suatu barang akan menjadi semakin sedikit apabila orang tersebut terus menerus menambah konsumsinya dan pada akhirnya tambahan nilai guna tersebut akan menjadi negative”
Konsep nilai guna (utility) bisa menjelaskan kelemahan berupa paradok antara kegunaan suatu barang dengan harganya. Seperti tentang durian, dimana sampai titik tertentu Anda tidak mau lagi memakannya, bahkan jika buah durian itu diberikan secara gratis. Hal ini menunjukkan bahwa tambahan kepuasan yang diberikan dari tiap tambahan unit barang yang dikonsumsi semakin berkurang. Inilah yang disebut Law of Diminishing Marginal Utility.
Contoh ; Surplus konsumen terjadi jika harga yang dibayarkan oleh konsumen terhadap suatu barang lebih tinggi dari harga pasarnya. Surplus konsumen akan terus naik jika konsumen terus membeli produk sampai unit tertentu dan menghentikannya, karena jika diteruskan konsumen tidak akan mendapatkan surplus lagi.
  • Total utility (total utility). Yaitu keseluruhan kepuasan yang diperoleh dari mengkonsumsi sejumlah barang-barang tertentu.
Contoh : Nilai guna dari mengkonsumsikan 10 buah apel meliputi seluruh kepuasan yang diperoleh dari memakan semua mangga tersebut.

2.           Pemaksimuman Nilai Guna
Setiap orang berusaha memperoleh dan untuk memaksimumkan kepuasan dari barang yang dikonsumsinya. Jika hanya terdapat 1 jenis barang pemaksimuman nilai guna tidaklah rumit dalam pengukurannya. Tetapi pemaksimuman nilai guna akan rumit apabila lebih dari 1 jenis barang. Kerumitan tersebut diakibatkan oleh adanya perbedaan harga masing-masing barang. Oleh karena itu syarat pemaksimuman nilai guna tidak lain adalah setiap rupiah yang dikeluarkan untuk membeli unit tambahan dari berbagai jenis barang,harus memberikan nilai guna yang sama besarnya.
Contoh : ada 2 barang A dan B, barang A harganya 3x barang B sedangkan nilai guna marginalnya sama antara nilai barang A dan B. Syarat lain dari pemaksimuman nilai guna adalah apabila perbandingan harga dan nilai guna masing-masing barang itu adalah sama. Misalnya makanan dan pakaian,1 unit makanan hargnya 500 dan 1 unit pakaian harganya 50.000 nilai guna marginal keduanya untuk makanan adalah 10 dan unuk pakaian adalah 50.Andai kata konsumen tesebut mempunyai uang 50.000 kepada barang apakah akan dibelanjakan?
MU.Barang A = MU Barang B
P.A = P.B
P= price
MU = marginal utility
Ada dua faktor yang menyebabkan permintaan ke atas suatu barang berubah sekiranya harga barang itu mengalami perubahan:
1.   Efek Penggantian
Perubahan harga suatu barang akan mengubah nilai marjinal utility/rupiah dari barang yang mengalami perubahan harga tersebut apabila harga suatu barang makin naik maka nilai marginal rupiah akan semakin rendah dan sebaliknya apabila suatu barang mengalami penurunan harga maka nilai marginal utility/rupiah akan semakin tinggi. Beberapa alasan yang menyebabkan suatu barang harganya menjadi mahal adalah kelangkaan dan biaya produksi. Air jauh lebih mudah didapat dari barang lain, intan misalnya. Sehingga wajar jika intan lebih mahal daripada air karena intan jauh lebih langka. Demikian juga dengan biaya produksi untuk mendapatkan air jauh lebih murah daripada biaya produksi intan.
2.   Efek pendapatan
Efek pendapatan terjadi dari berubahnya harga suatu barang (naik atau turun). Jika harga barang X naik, maka tambahan kepuasan dari mengkonsumsi satu unit barang tersebut menjadi turun per harga barangnya. Hal ini menyebabkan turunnya permintaan akan barang X. Sebaliknya jika harga barang Y turun, maka tambahan kepuasan dari mengkonsumsi satu unit barang tersebut menjadi naik per harganya, sehingga permintaan akan barang Y naik.
Jika pendapatan tidak berubah (tetap) sedangkan harga barang mengalami kenaikan maka pendapatan rillnya mengalami penurunan.

3.      Prinsip teori Utilitas:

1.Barang (goods) yang di konsumsi mempunyai sifat semakin banyak akan semakin besar manfaatnya. Dengan demikian, jika sesuatu yang bila dikonsumsi semakin banyak justru mengurangi kenikmatan hidup (bad) tidak dapat didefinisikan sebagai barang, misalnya penyakit.

2.Utilitas (utility) adalah manfaat yang diperoleh seseorang karena ia mengkonsumsi barang, Dengan demikian Utilitas merupakan ukuran manfaat (kepuasan) bg seseorang karena mengkonsumsi barang. Keseluruhan manfaat yang diperoleh konsumen karena mengkonsumsi sejumlah barang disebut dengan Utilitas total (Total Utility) Utilitas marjinal (marginal utility) adalah tambahan manfaat yang diperoleh karena menambah satu unit konsumsi barang tertentu.

3.Pada teori Utilitas berlaku Hukum Pertambahan Manfaat yang Makin Menurun (The law of Diminishing marginal utility) yaitu bahwa awalnya sesorang konsumen mengkonsumsi satu unit barang tertentu akan memperoleh atambahan Utilitas (manfaat) yang besar, akan tetapi tambahan unit konsumsi barang tersebut akan memberikan tambahan Utilitas (manfaat yang semakin menurun, dan bahkan dapat memberikan manfaat negatif. Dengan kata lain, Utilitas marjinal (MU) mula-mula adalah besar, dan semakin menurun dengan meningkatnya unit barang yang dikonsumsi.

4.Pada teori Utilitas berlaku konsistensi preferensi, yaitu bahwa konsumen dapat secara tuntas (complete) menentukan rangking dan ordering pilihan (preference, choice) diantara berbagai paket barang yang tersedia. Konsep ini disebut dengan Transitivity dan rasionalitas. Misalnya, jika A lebih disuka dari B atau A>B, dan B lebih disukai dari C atau B>C, maka harus berlaku A lebih disuka dari C, atau A>C.

5.Pada teori Utilitas diasumsikan bahwa konsumen mempunyai pengetahuan yang sempurna berkaitan dengan keputusan konsumsinya. Mereka dianggap (diasumsikan) mengetahui persis kualitas barang, kapasitas produksi, teknologi yang digunakan dsb.


4.           Nilai Guna, Bentuk Dan Berhentinya Kebiasaan.
Menurut M Abraham Garcia-Torres, Nilai Guna pada barang yang sama, dipengaruhi oleh tiga hal, yaitu :
  • Jangka waktu konsumsi barang yang sama.
  • Daya ingat konsumen
  • Kualitas barang

  1. Jangka Waktu Konsumsi Barang
Jika jangka waktu konsumsi cukup lama maka ingatan konsumen harus bekerja lebih keras untuk membangkitkan pengalaman yang lalu. kemudian konsumen akan dapat menikmati konsumsi berikutnya. karena jangka waktu berkurang, konsumen akan merasakan kebosanan pada barang yang sama.

  1. Daya Ingat Konsumen
Memori yang lebih tinggi dan waktu yang lebih lama diperlukan antara konsumsi untuk barang yang sama. Pembuktian fakta ini, adalah bentuk kebiasaan yang lebih kuat antara orang dewasa dan anak - anak. Dua kelompok ini dapat mengkonsumsi barang yang sama , atau melakukan hal yang sama tapi mengalami kebosanan setelah jangka waktu yang berbeda, yaitu orang dewasa lebih cepat bosan daripada anak- anak.
  1. Kualitas Barang
Peningkatan kualitas barang (ceteris paribus) akan menyebabkan peningkatan nilai guna pengalaman.
Lalu bagaimana kebiasaan terbentuk ? Konsumen mempelajari seberapa lama waktu yang dia perlukan antara konsumsi yang satu dengan berikutnya. jika dia bisa mengkonsumsi barang tersebut selamaya.
Bagaimana dia bisa menghentikan kebiasaan tersebut? Jika dalam proses perkembangan kebiasaan dia berbuat kesalahan dan menurunkan waktu konsumsi barang , kemudian otaknya akan mengembangkan rasa bosan pada barang tersebut. Rasa bosan tersebut mungkin semacam dia tidak ingin mengkonsumsi barang itu lagi dalam jangka waktu yang lama dan selamanya. Pada poin ini dia kan menghentikan kebiasaan . berdasarkan alasan ini kita bisa mengelompokan kebiasaan konsumsi ini sebagai berikut :
4.1              Kecanduan : yaitu tindakan konsumsi barang dalam jangka waktu yang lama dan tidak bisa dihindari. kecanduan biasanya terjadi pada Narkoba dan berjudi. tapi beberapa masyarakat masih menerima beberapa kecanduan seperti pada teh, kopi, rokok dan seterusya yang dianggap sebagai kebiasaan.
4.2              Kebiasaan abadi : yaitu tindakan konsumsi barang dimana konsumen belajar bagaimana untuk menghabiskanya. Ini berarti dia telah mencapai jangka waktu yang tepat untuk mengkonsumsi barang tersebut tanpa menjadi bosan.
4.3              kebiasaan sesaat : yaitu tindakan konsumsi terhadap suatu barang yang akan memberikan nilai guna kepada konsumen hanya untuk sesekali. setelah itu dia akan bosan pada barang tersebut. kalau sudah begitu dia akan memiliki dua pilihan, tidak menggunakan barang itu lagi atau mencoba untuk mencari barang sejenis dengan kualitas yang lebih baik dan masih memberikan dia nilai guna.
4.1              Mencari kenikmatan baru : konsumen membeli hanya karena rasa ingin tahu, dan akan menikmati sampai kesenanganya hilang.ketika kesenanganya berlalu maka barang itu sudah tidak berguna lagi bagi dia.

Kebiasaan abadi bisa berubah menjadi kebiasaan sesaat jika dia melakukan kesalahan dengan mengkonsumsi barang tersebut terlalu banyak dalam jangka waktu yang singkat. begitu pula kebiasaan sesaat bisa menjadi Kebiasaan abadi jika dia berusaha menggunakanya dengan semestinya . Dengan kata lain klasifikasi mungkin saja berubah setiap saat . Tapi secara sederhan kita bisa menyimpulkan bahwa jangka waktu antara konsumsi barang yang sama adalah tetap. Dengan begitu kita bisa memahami dinamika Preferensi.

B.   Asumsi – Asumsi Mengenai Utilitas
Ada dua asumsi menonjol yang sering dipakai oleh para ekonom terkait dengan teori konsumsi  yaitu:
1.      Asumsi rasionalitas, artinya bahwa seorang konsumen senantiasa berusaha menggunakan pedapatannya yang terbatas, untuk memperoleh kokmbinasi barang-barang dan jasa-jasa konsumsi yang menurut perkiraannya akan mendatangkan kepuasan yang maksimal.
2.      Asumsi Perfect Knowledge atau pengetahuan yang sempurna, khususnya pengetahuan mengenai macam-macam barang dan jasa komunikasi yang tersedia di pasar, harga masing-masing baarang dan jasa, besarnya pendapatan yang mereka peroleh, dan cita rasa yang mereka inginkan

Selain itu ada beberapa pendekatan mengenai terbentuknya fungsi permintaan konsumen dengan disertai asumsi-asumsinya. Pendekatan-pendekatan tersebut antara lain:
1. Pendekatan Kardinal (Cardinal Approach)
2. Pendekatan Ordinal (Ordinal Approach)

-      Pendekatan Kardinal
Kepuasan seorang konsumen dalam mengkonsumsi suatu barang dapat diukur dengan satuan kepuasan misalnya mata uang. Setiap tambahan satu unit barang yang dikonsumsi akan menambah kepuasan yang diperoleh konsumen tersebut dalam jumlah tertentu.. Asumsi dari pendekatan ini adalah :
a. Kepuasan konsumsi dapat diukur dengan satuan ukur, util.
b. Makin banyak barang dikonsumsi makin besar kepuasan.
c.Terjadi hukum The law of deminishing Marginal Utility pada tambahan      kepuasan setiap satu satuan. Setiap tambahan kepuasan yang diperoleh dari setiap unit tambahan konsumsi semakin kecil.
d.Tambahan kepuasan untuk tambahan konsumsi 1 unit barang bisa dihargai dengan uang, sehingga makin besar kepuasan makin mahal harganya.
            Pendekatan kardinal biasa disebut juga sebagai Daya Guna Marginal.
Asumsi seorang konsumen :
a.       Konsumen rasional yaitu bertujuan memaksimalkan kepuasannya dengan batasan pendapatannya.
b.      Dimnishing marginal utility artinya tambahan utilitas yang diperoleh konsumen makin menurun dengan bertambahnya komsumsi dari komoditas tersebut.
c.       Pendapatan konsumen tetap.
d.      Contstant marginal utility of money, artinya uang mempunyai nilai subjektif yang tetap.
e.       Total utility adalah additive dan independent.
Additive artinya daya guna dari sekumpulan barang adalah fungsi dari kuantitas masing-masing barang yang dikonsumsi. Misalnya: U = f (X1,X2,...,Xn)
U = U1 (X1) + U2 (X2) + ……Un(Xn).
Sedangkan Independent mengandung pengertian bahwa yang daya guna X1, tidak dipengaruhi oleh tindakan mengkonsumsi barang X2, X3, X4,…., X n begitu juga sebaliknya.
f.       Kepuasan konsumen dapat diukur.

-      Pendekatan  Ordinal
Kelemahan pendekatan kardinal terletak pada anggapan yang digunakan bahwa kepuasan konsumen dari mengkonsumsi barang dapat diukur dengan satuan kepuasan. Pada kenyataannya pengukuran semacam ini sulit dilakukan.
Pendekatan ordinal mengukur kepuasan konsumen dengan angka ordinal (relatif). Tingkat kepuasan konsumen dengan menggunakan kurva indiferens (kurva yg menunjukkan tingkat kombinasi jumlah barang yang dikonsumsi yang menghasilkan tingkat kepuasan yang sama).
Pendakatan ini muncul karena adanya keterbatasan - keterbatasan yang ada pada pendekatan cardinal, meskipun bukan berarti pendekatan cardinal tidak memiliki kelebihan.Asumsi-asumsi dasar dari pendekatan ini adalah :
a.    Pengetahuan yang sempurna (full Knowledge)
1.  Konsumen menyadari adanya barang dan jasa
2.   Konsumen mempunyai respon atau reaksi (tanggap) terhadap adanya  barang dan jasa tersebut, sehingga konsumen lebih menyukai barang (jasa) tertentu daripada barang (jasa) lain.
3.   Konsumen mempunyai pendapatan sejumlah uang tertentu yang menyebabkan tanggapan (respon) menjadi nyata di pasar.
b. Fungsi selera atau barang yang lebih disukai (Preference Function)
1)   Urutan peringkat, yaitu konsumen mempunyai daftar urutan barang atau kelompok barang mulai dari yang paling disukai sampai yang paling kurang disukai.
2)   Dua macam barang atau kelompok barang A dan B ada tiga  kemungkinan:
-          A lebih disukaki daripada B
-          B lebih disukaki daripada A
-          A dan B sama-sama disukai
3)   Transivity, yaitu konsumen konsisten dalam mengambil keputusan pemilihan antar kombinasi kommoditi. Konsumen sanggup membandingkan kelompok barang atau memilih barang. Semua kumpulan kombinasi yang tersedia bagi konsumen adalah berhubungan. A lebih disukai dari B, dan B lebih disukai dari C, maka A lebih disukai dari C.
4)   Unsatiaty atau Unsaturity (tidak jenuh) dan konsisten yaitu konsumen dianggap tidak pernah terpuaskan. Konsumen menyukai jumlah barang yang lebih banyak. Misalnya bila A lebih dipilih daripada B karena A lebih banyak dan lebih disukai daripada B, dan tidak berlaku sebaliknya B lebih dipilih daripada A.

-      Persamaan Kardinal dan Ordinal
Persamaan cardinal dan ordinal yaitu sama-sama menjelaskan tindakan konsumen dalam mengkonsumsi barang-barang yang harganya tertentu dengan pendapatan konsumen yang tertentu pula agar konsumen mencapai tujuannya (maximum utility).

-      Perbedaan Kardinal dan Ordinal
Ø  Nilai guna (Utility) Kardinal menganggap bahwa besarnya utility dapat dinyatakan dalam bilangan/angka. Sedangkan analisis ordinal besarnya utility dapat dinyatakan dalam bilangan / angka.
Ø  Analisis cardinal mengunakan alat analisis yang dinamakan marginal utiliy (pendekatan marginal). Sedangkan analisis ordinal menggunakan analisis indifferent curve atau kurva kepuasan sama .




-      Contoh Soal
1.           Laidback Al mengambil utilitas dari tiga barang : musik (M), anggur (W), dan keju ©. Fungsi utilitasnya memiliki bentuk linier yang sederhana
                                      Utilitas = U (M,W,C) = M + 2W + 3C
a)      Dengan asumsi konsumsi musik Al tetap pada 10, gambar kurva kepuasan sama untuk W dan C untuk U = 40 dan U = 70

 Jawab

      Jika U = 40                             Jika U = 70
             40 = 10 + 2W + 3C                  70 = 10 + 2W + 3C
             40 – 10 = 2W + 3C                  70 – 10 = 2W + 3C
             30 = 2W + 3C                          60 = 2W + 3C

Untuk gambar :



C
 
 

  20
 
Melalui persamaan 30 = 2W + 3C

60 = 2W+3C
 
Jika C = 0 ≥ 30 = 2W                                                                          

  10
 
                      W = 15

30 = 2W + 3C
 
Jika W = 0 ≥ 30 = 3C                                                          
                       C = 10
                                                                                                       

  15
 


  30        W
 
Melalui persamaan 60 = 2W + 3C                                                                                         
Jika C = 0  ≥ 2W = 60
                        W = 30                                                            
Jika W = 0 ≥  60 = 3C
                         C = 20 
b)      Perlihatkan bahwa MRS Al dari anggur terhadap keju konstan untuk semua nilai W  dan C di kurva kepuasan sama yang dihitung dalam bagian (a).

 Jawab 


30 = 2W + 3C           60 = 2W + 3C
3C = 2W – 30           3C = 2W + 60
  C = 2/3W – 30          C = 2/3W – 20
MRS = 2/3
Jadi, MRS dari anggur terhadap keju tidak berubah / tetap walaupun ada perubahan U.
c)      Misalkan konsumsi musik Al meningkat menjadi 20. Bagaimana hal ini mengubah jawaban anda terhadap bagian (a) dan (b)?. Terangkan hasil anda secara intuitif.

Jawab

Jika U = 40                     Jika U = 70
40 = 20 + 2W + 3C        70 = 20 + 2W + 3C
40 – 20 = 2W + 3C        70 – 20 = 2W + 3C
20 = 2W + 3C                50 = 2W + 3C

C
 


50 = 2W+3C
 
Untuk gambar :
Melalui persamaan 20 = 2W + 3C                                              

16,67
 
Jika C = 0 ≥ 20 = 2W
                      W = 10

20=2W+3C
 
Jika W = 0 ≥ 20 = 3C
                       C = 6,67

6,67
 

20 = 2W + 3C                 50 = 2W + 3C   
3C = 2W – 20                 3C = 2W + 50

10
 


W
 


25
 
C = 2/3W – 6,67               C = 2/3W – 16,67

MRS = 2/3
Jadi, MRS dari anggur terhadap keju tidak berubah / tetap walaupun ada perubahan konsumsi musik  mnjadi 20.

BAB III PENUTUP

3.1. Kesimpulan
a.       Teori nilai guna atau utility yaitu kepuasan atau kenikmatan yang diperoleh seseorang dari megkonsumsikan barang-barang. Kalau kepuasan itu semakin tinggi maka semakin tinggilah nilai gunanya atau utilitinya.
Pemaksimuman Nilai Guna
b.      Pemaksimuman nilai guna: setiap orang berusaha memperoleh dan untuk memaksimumkan kepuasan dari barang yang dikonsumsinya. Jika hanya terdapat 1 jenis barang pemaksimuman nilai guna tidaklah rumit dalam pengukurannya. Tetapi pemaksimuman nilai guna akan rumit apabila lebih dari 1 jenis barang.
c.       Prinsip Teori Utilitas
1.Barang (goods) yang di konsumsi mempunyai sifat semakin banyak akan semakin besar manfaatnya.
2.Utilitas (utility) adalah manfaat yang diperoleh seseorang karena ia mengkonsumsi barang, Dengan demikian Utilitas merupakan ukuran manfaat (kepuasan) bg seseorang karena mengkonsumsi barang.
3.Pada teori Utilitas berlaku Hukum Pertambahan Manfaat yang Makin Menurun (The law of Diminishing marginal utility) yaitu bahwa awalnya sesorang konsumen mengkonsumsi satu unit barang tertentu akan memperoleh atambahan Utilitas (manfaat) yang besar, akan tetapi tambahan unit konsumsi barang tersebut akan memberikan tambahan Utilitas (manfaat yang semakin menurun, dan bahkan dapat memberikan manfaat negatif.
4.Pada teori Utilitas berlaku konsistensi preferensi, yaitu bahwa konsumen dapat secara tuntas (complete) menentukan rangking dan ordering pilihan (preference, choice) diantara berbagai paket barang yang tersedia.
5.Pada teori Utilitas diasumsikan bahwa konsumen mempunyai pengetahuan yang sempurna berkaitan dengan keputusan konsumsinya. Mereka dianggap (diasumsikan) mengetahui persis kualitas barang, kapasitas produksi, teknologi yang digunakan dsb.
d. Menurut M Abraham Garcia-Torres, Nilai Guna pada barang yang sama, dipengaruhi oleh tiga hal, yaitu :
-          Jangka waktu konsumsi barang yang sama.
-          Daya ingat konsumen
-          Kualitas barang
e.       Asumsi rasionalitas, artinya bahwa seorang konsumen senantiasa berusaha menggunakan pedapatannya yang terbatas, untuk memperoleh kokmbinasi barang-barang dan jasa-jasa konsumsi yang menurut perkiraannya akan mendatangkan kepuasan yang maksimal.
f.        Asumsi Perfect Knowledge atau pengetahuan yang sempurna, khususnya pengetahuan mengenai macam-macam barang dan jasa komunikasi yang tersedia di pasar, harga masing-masing baarang dan jasa, besarnya pendapatan yang mereka peroleh, dan cita rasa yang mereka inginkan.
















Daftar Pustaka
Sukirno, Sadono. 2003. Penganatar Teori Mikroekonomi. Edisi Ketiga. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Teori Perilaku konsumen , http://matakuliah.wordpress.com

Machfudz, Masyhuri. 2007. Dasar-dasar Ekonomi Mikro. Jakarta: Prestasi Pustaka.











You May Also Like

1 komentar