Makalah Filsafat Ilmu Pemikiran Dan Perspektif Thomas S. Kuhn erhadap Paradigma Ilmu
Dosen
Pembimbing :
Made Pramono, SS., M. Hum.
Oleh
:
1. Takdir
Rizki Agustian
Nim : 118 694 256
Kelas : 2011 BB
Jurusan : S1 Akuntansi
2.
Irwan Firdaus
Nim
: 118 694 267
Kelas : 2011 BB
Jurusan
: S1 Akuntansi
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
TAHUN AJARAN 2012
KATA
PENGANTAR
Pertama
– tama marilah kita panjatkan puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayahnya kepada kita semua. Tak lupa pula salawat
serta salam kita hantarkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah
merangkul kita dari alam Jahiliyah menuju alam Islamiyah kini.
Tak
lupa pula kami ucapkan terima kasih kepada Dosen Pembimbing Mata Kuliah
Filsafat Ilmu yang senantiasa membimbing kami sehingga makalah ini dapat
terselesaikan dengan baik dan lancar.
Kami menyadari bahwa makalah ini
masih belum sempurna dan perlu perbaikan. Dengan semangat amar makruf dan upaya
meningkatkan ilmu pengetahuan, kami senantiasa mengharapkan kontribusi
pemikiran dan saran perbaikan demi kelengkapan dan kesempurnaan makalah ini.
Semoga dapat memberi manfaat dan hanya kepada Allah SWT kami memohon agar
meridhoi segala upaya kita bersama, amin ya rabbal ‘alamin.
Wassalam. Surabaya,
19
Maret 2012
Penyusun
DAFTAR ISI
Kata
Pengantar…………………………………………………………………………………
Daftar
Isi……………………………………………………………………………………….
Bab
I Pendahuluan……………………………………………………………………………..
A.
Latar Belakang…………………………………………………………………………
B.
Rumusan
Masalah……………………………………………………………………...
C.
Tujuan………………………………………………………………………………….
Bab
II Pembahasan……………………………………………………………………………...
A.
Biografi
Thomas S. Kuhn……………..........................................................................
B.
Paradigma Ilmu Dalam
Perspektif Thomas S. Kuhn…………………………………..
Bab
III Penutup…………………………………………………………………………………
Kesimpulan………………………………………………………………………………...
Daftra Pustaka…………………………………………………………………………………..
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masalah
Selama hampir satu abad, sampai terjadinya perang Dunia I, ilmu secara
nyaris universal telah dipandang dengan kacamata heroik. Para ilmuwan berjuang
sendirian untuk mencari kebenaran. Ilmu adalah aktivitas yng murni dan otonom,
terlepas dari teknologi dan industri serta mengatasi atau melampui masyarakat.
Kemurnian penelitian ilmiah secara khusus ditegaskan di Universitas – universitas
dimana riset dilakukan dan demi pegetahuan dan dimana generasi para ilmuwan
masa depan dididik. Namun kendati ilmu tetap murni sepanjang zaman, tetap saja
terdapat kesalahan-kesalahan yang harus dikoreksi.
Dalam perdebatan antara murni dan
tidaknya sebuah pengetahuan dari kekuasaan dan ideologi inilah Thomas S. Kuhn turut
serta dalam kancah polemik ini. Karya monumentalnya yang berjudul The
Structure of Scientific Revolution banyak mengubah persepsi orang terhadap
ilmu. Jika sebagian orang mengatakan bahwa pergerakan ilmu adalah bersifat
linier- akumulatif, maka tidak demikian dengan pandangan Kuhn. Menurut Kuhn,
ilmu bergerak melalui tahapan-tahapan yang akan berpuncak pada kondisi normal
dan kemudian membusuk karena telah tergantikan oleh ilmu atau paradigma baru.
Demikian seterusnya, paradigma baru mengancam paradigma lama yang sebelumnya
juga menjadi paradigma baru. Sehingga terjadilah proses benturan antar
paradigma. Banyak orang menganggap bahwa ilmu adalah bebas nilai tetapi menurut
Kuhn ilmu sangat terkait erat pada paradigma subyektif ilmuwan.
B.
Rumusan Masalah
Setelah membaca persoalan ilmu pengetahuan dari latar
belakang yang telah diuraikan diatas, maka timbul permasalahan yang merupakan
titik fokus akan penyelesaian makalah ini yang dirumuskan sebagai berikut :
1. Bagaimanakah
Pandangan Thomas S. Kuhn Terhadap Ilmu ?
2. Bagaimanakah
Perspektif Thomas S. Kuhn Terhadap Paradigm Ilmu ?
C.
Tujuan
Kami
sebagai penulis mengangkat sebuah judul “ Pemikiran Thomas S. Kuhn Terhadap
Ilmu ”. Bertujuan agar pembaca
dapat mengetahui mengetahui pemikiran Thomas S. Kuhn terhadap ilmu dan
perspektif terhadap paradigm ilmu.
BAB II
PEMBAHASAN
A. BIOGRAFI
THOMAS S. KUHN
Thomas
Samuel Kuhn lahir di Cicinnati, Ohio pada tanggal 18 juli 1922. Kuhn lahir dari
pasangan Samuel L, Kuhn seorang Insinyur industri dan Minette Stroock Kuhn. Dia
mendapat gelar B.S di dalam ilmu fisika dari Harvard University pada tahun 1943
dan M.S. Pada tahun 1946. Kuhn belajar sebagai fisikawan namun baru menjadi
pengajar setelah mendapatkan Ph.D dari Harvard pada tahun 1949. Tiga tahunnya
dalam kebebasan akademik sebagai Harvard Junior Fellow sangat penting dalam
perubahan perhatiannya dari ilmu fisika kepada sejarah (dan filsafat) ilmu. Dia
kemudian diterima di Harvard sebagai asisten profesor pada pengajaran umum dan
sejarah ilmu atas usulan presiden Universitas James Conant.
Setelah meninggalkan Harvard dia belajar di
Universtitas Berkeley di California sebagai pengajar di departemen filosofi dan
sains. Dia menjadi profesor sejarah ilmu pada 1961. Di berkeley ini dia
menuliskan dan menerbitkan bukunya yang terkenal The Structure Of Scientific
Revolution pada tahun 1962. Pada tahun 1964 dia menjadi profesor filsafat
dan sejarah seni di Princeton pada tahun 1964-1979. Kemudian di MIT
sebagai professor filsafat. Tetap di sini hingga 1991. Jadi Thomas Kuhn tumbuh
ketika ilmu telah terindustrialisasikan dan telah ditransformasikan menjadi
karir dari pada pengabdian. Pada tahun 1994 dia mewawancarai Niels Bohr sang
fisikawan sebelum fisikawan itu meninggal dunia. Pada tahun 1994, Kuhn
didiagnostik dengan kanker dari Bronchial tubes. Dia meninggal pada
tahun 1996 di rumahnya di Cambridge Massachusetts. Dia menikah dua kali
dan memiliki tiga anak. Kuhn mendapat banyak penghargaan di bidang akademik.
Sebagai contohnya dia memegang posisi sebagai Lowel lecturer pada tahun
1951, Guggeheim fellow dari 1954 hingga 1955, Dan masih banyak
penghargaan lain.
Pada suatu hari yang panas Thomas Samuel Kuhn
sedang membaca sebuah buku Aristoteles di kamarnya. Ada sesuatu hal yang tidak
dimengertinya, kenapa Aristoteles begitu brilian dalam ilmu lain tapi begitu
bingung mengenai gerak. Tiba – tiba dia mendapat sebuah Ide. Sebuah
pemahaman baru mengenai Science. “ Saya menerawang keluar dari jendela kamarku.
Tiba-tiba kepingan-kepingan dalam kepalaku tiba-tiba membentuk dirinya dalam
cara yang baru, dan jatuh ditempatnya bersama-sama. Aku ternganga.”
B. PARADIGMA
ILMU DALAM PERSPEKTIF THOMAS S. KUHN
Dengan
diterbikannya Structure of scientific revolution pada tahun 1962, Thomas
Samuel Kuhn mengawali sebuah zaman baru dalam memahami ilmu. Dalam pengantarnya
untuk structure ia menguraikan: “Keikutsertaan yang menguntungkan
dalam sebuah kuliah eksperimental dalam perguruan tinggi yang mengajarkan ilmu
fisika untuk mereka yang bukan ilmuwan memungkinkan perjumpaan pertama saya
dengan teori dan praktek ilmiah yang telah kadaluwarsa sehingga meruntuhkan
secara radikal sejumlah konsepsi dasar saya tentang hakikat ilmu serta
sebab-sebab keberhasilannya yang istimewa. Konsepsi-konsepsi itu adalah apa
yang sebelumnya saya simpulkan untuk sebagian dari pelatihan ilmiah itu sendiri
dan sebagian minat sampingan saya yang telah yang telah lama terhadap filsafat
ilmu. Tetapi apapun manfaat pedagogisnya dan nilai abstraknya,
anggapan-anggapan itu tidak sepenuhnya sesuai dengan upaya yang ditunjukkan
oleh kajian sejarah. Namun anggapan-anggapan itu telah dan masih bersifat
fundamental bagi pembebasan yang manapun tentang ilm, dan ketidaksesuaiannya
tampak benar-benar perlu diselidiki. Hasilnya adalah pergeseran secara drastis
dari fisika menuju sejarah ilmu, dan kemudian secara berangsur-angsur dari
masalah-masalah kesejarahan yang secara relatif bersifat langsung kembali
kepada perhatian-perhatian yang lebih filosofis yang semula mengarahkan
perhatian saya terhadap sejarah”.
Ketika pertama kali diterbitkan, Structure memicu sejumlah besar kontroversi.
Reaksi dari para ilmuwan tidak mengejutkan, bagaimanapun Kuhn telah meruntuhkan
anggapan yang telah diterima tentang ilmuwan sebagai pencari kebenaran dan
interogator alam dan realitas yang heroik,
berpikiran terbuka dan babas kepentingan. Dan sebagimana ditampilkan lewat
parodi-parodi dalam karyanya, ia telah mereduksi ilmu menjadi tak lebih
dari periode-periode panjang aktivitas konformis yang membosankan, yang
diselingi dengan munculnya irasional. Namun para filosof ilmupun terlampau memusuhi
Kuhn, karena mereka hingga saat ini merasa bertanggung jawab untuk menghasilkan
penjelasan-penjelasan tentang hakikat penelitian dan kemajuan ilmiah.
Penjelasan Kuhn nyaris tak diakui dibandingkan produk mereka yang telah
diformalisasikan dan diidealisasikan. Perbandingan-perbandingannya dengan teologi,
perubahan agama dan revolusi politik menakutkan bagi para ilmuwan maupun para
filosof ilmu. Para filosof juga memandang bahwa relativisme Kuhn sangat
mencemaskan. Dalam lingkungan sejarah dan filsafat ilmu, Structure digambarkan
sebagai tidak rasional, kering dan rancu. Namun pada Akhirnya tahun 1960,
Structure mulai diterima sebagai karya revolusioner dalam filsafat ilmu.
Kuhn
memandang ilmu dari perspektif sejarahwan professional tertentu. Ia mengeksplorasi
tema-tema yang lebih besar misalnya seperti apakah ilmu itu didalam prakteknya
yang nyata dengan analisis kongkrit dan empiris. Didalam Structure ia
menyatakan bahwa ilmuwan bukanlah para penjelajah berwatak pemberani yang
menemukan kebenaran-kebenaran baru. Mereka lebih mirip para pemecah teka-teki
yang bekerja didalam pandangan dunia yang sudah mapan. Ilmu bukan merupakan
upaya untuk menemukan obyektivitas dan kebenaran, melainkan lebih menyerupai
upaya pemecahan masalah didalam pola-pola keyakinan yang telah berlaku. Kuhn memakai istilah paradigma
untuk menggambarkan system keyakinan yang mendasari upaya pemecahan
teka-teki didalam ilmu. Dengan memakai istilah paradigma, tulisnya, “ saya bermaksud mengajukan sejumlah contoh yang telah
diterima tentang praktik ilmiah nyata contoh-contoh yang meliputi hukum, teori, aplikasi,
dan instrumentasi yang
menyediakan model-model yang menjadi sumber tradisi ilmiah riset tertentu
yang koheren ”. Inilah
tradisi-tradisi yang oleh sejarah ditempatkan didalam rubrik-rubrik seperti “Ptolemaic Astronomy atau
Copernican, Aristotelian Dynamic atau Newtonian, corpuscular optic
atau wave optic” dan sebagainya.
Istilah Paradigma
berkaitan erat dengan ilmu normal. Mereka yang bekerja
didalam paradigma umum dan dogmatis, menggunakan sumber dayanya untuk
menyempurnakan teori, menjelaskan data-data yang membingungkan, menetapkan
ketepatan ukuran-ukuran standar yang terus meningkat dan melakukan kerja lain
yang diperlukan untuk memperluas batas-batas ilmu normal.
Dalam skema Kuhn, stabilitas
dogmatis ini diselingi oleh revolusi-revolusi yang sesekali terjadi. Ia
menggambarkan bermulanya ilmu revolusioner secara gamblang seperti yang ia
nyatakan: “ ilmu
normal…sering menindas kebaruan-kebaruan fundamental karena mereka pasti bersifat
subversive terhadap komitmen-komitmen dasarnya…(namun) ketika profesi tak bisa
lagi mengelak dari anomaly-anomali yang merongrong tradisi praktek ilmiah yang
sudah ada..”
Dalam
buku Structure Kuhn menyatakan “dengan memilih istilah ini saya bermaksud
mengemukakan bahwa beberapa contoh praktek ilmiah nyata yang diterima contoh-contoh yang
bersama-sama mencakup dalil, teori, penerapan dan instrumentasi-menyajikan
model-model yang daripadanya lahir tradisi-tradisi padu tertentu dari riset
ilmiah ”. Tradisi-tradisi inilah
yang oleh para sejarahwan dilukiskan dengan judul-judul seperti “astronomi
Ptolomeus atau Copernican, dinamika Aristoteles atau Newton, Optika Korpuskular
atau Optika gelombang dan sebagainya. Studi tentang paradigm-paradigma, termasuk
banyak yang jauh lebih terspesialisasi daripada yang disebut sebagai illustrasi
diatas, ialah yang terutama mempersiapkan mahasiswa bagi keanggotaannya dalam
masyarakat Ilmiah tertentu, yang dengan latar itu ia akan melakukan praktek
dikemudian hari. Karena disana ia bergabung dengan orang-orang yang trelah
mempelajari dasar-dasar bagi bidang mereka dari model-model kongkret yang sama,
maka prakteknya setelah itu akan jarang membangkitkan perselisihan yang jelas
tentang berbagai fundamental. Orang-orang yang risetnya didasarkan atas
paradigm bersama terikat pada kaidah-kaidah dan standar praktek ilmiah yang
sama. Komitmen itu serta consensus yang jelas yang dihasilkan merupakan
prasyarat bagi sains yang normal, yaitu bagi penciptaan dan kesinambungan tradisi
riset tertentu”.
Kuhn menyatakan “Untuk memperlihatkan dengan jelas apa yang dimaksud
dengan riset normal atau riset berdasarkan paradigma, baiklah saya coba
mengklasifikasi dan mengilustrasikan masalah-masalah yang pada prinsipnya sains
yang normal terdiri atas masalah-masalah tersebut. Untuk memudahkan, saya
menangguhkan kegiatan teoritis dan memulai dengan pengumpulan fakta, yakni
dengan eksperimen-eksperimen dan pengamatan yang diuraikan dalam
berkala-berkala teknis yang digunakan oleh para ilmuwan untuk memberikan
informasi tentang hasil-hasil riset mereka yang berkesinambungan pada
rekan-rekan professional mereka. Aspek-aspek alam yang mana yang biasanya
dilaporkan oleh para ilmuwan itu? Apa yang menentukan pilihan mereka? Dan
karena kebanyakan pengamatan ilmiah itu memerlukan banyak waktu, perlengkapan,
dan uang, apa yang memotivasi para ilmuwan untuk meneruskan pilihan itu sampai
memperoleh kesimpulan?”..
Maka
dimulailah investigasi diluar kelaziman. Suatu titik tercapai ketika krisis
yang hanya bisa dipecahkan dengan revolusi dimana paradigma lama memberikan
jalan bagi paradigma baru. Demikianlah ilmu revolusioner mengambil alih.
Namun apa yang sebelumnya pernah revolusioner itu sendiri akan mapan dan
menjadi ortodoksi baru, ilmu normal yang baru. Jadi menurut Kuhn, ilmu
berkembang melalui siklus-siklus ilmu normal diikuti oleh revolusi, lalu ilmu
yang revolusioner menjadi mapa dan normal lalu diikuti oleh revolusi lagi.
Setiap paradigma bisa menghasilkan karya khusus yang menentukan dan membentuk
paradigm misalnya Physic karya aristoteles, Principia dan Optiks karya
Newton serta Geology karya Lyell adalah contoh karya yang menentukan
paradigma cabang-cabang ilmu tertentu pada suatu masa tertentu.
Berbeda
tajam dengan gambarann tradisional tentang ilmu sebagai penerimaan atas
pengetahuan secara progressif, gradual dan kumulatif yang didasarkan pada
kerangka eksperimental yang dipilih secara rasional, Kuhn menunjukka bahwa ilmu
normal sebagai upaya dogmatis. Jika kita menganggap teori ilmiah yang
sudah ketinggalan seperti dinamika Aristotelian, kimia flogistis, dan
termodinamika kalori sebagai mitos, menurut Kuhn kita bisa sama-sama bersikap
logis untuk mengangggap teori-teori ini sebagai irrasional dan dogmatis:
“Jika
keyakinan-keyakinan yang kadaluwarsa itu hendak disebut mitos-mitos, maka
mitos-mitos itu bisa dihasilkan lewat jenis-jenis metode yang sama dan berlaku
untuk jenis-jenis rasio yang sama yang kini mengarahkan pegetahuan ilmiah.
Jika, dilain pihak, mereka hendak disebut ilmu, maka ilmu telah mencakup
bangunan-bangunan keyakinan yang sangat tidak sesuaidengaan bangunan-bangunan
yang kita percaya saat ini…(ini) menyulitkan kita untuk melihat perkembangan
ilmiah sebagai proses akumulasi”.
Dalam
seluruh buku ia mengguanakan contoh contoh historis untuk menjelaskan praktek
masa kini, mengidentifikasi factor-faktor umum dan menekankan sifat cacat
metode ilmiah. Demikianlah metode ilmiah- proses observasi, eksperimentasi,
deduksi dan konklusi yang diidealisasikan- yang menjadi dasar kebanyakan klaim
ilmu akan obyektivitas dan universalisme berubah menjadi ilusi. Kuhn menyatakan
bahwa paradigmalah yang menentukan jenis-jenis eksperimen yang dilakukan para
ilmuwan, jenis-jenis pertanyaan yang mereka ajukan, dan masalah yag mereka
anggap penting. Tanpa paradigma tertentu, para ilmuwan bahkan tidak bisa
mengumpulkan fakta. Dengan tiadanya paradigma atau calon paradigma tertentu,
maka fakta yang mungkin sesuai dengan perkembanga ilmu tertentu tampaknya
cenderung sama-sama relevan . akibatnya, pengumpulan fakta tahap awal, jauh
lebih berupa kegiatan acak jika dibandingkan dengan kegiatan yang telah
diakrabi dalam perkembanga ilmu yang lebih lanjut. Pergeseran paradigma
mengubah konsep-konsep dasar yang melandasi riset dan mengilhami standar-standar
pembuktian baru, teknik-teknik riset baru, serta jalur-jalur teori da
eksperimen baru yang secara radikal tidak bisa dibandingkan lagi dengan yang
lama.
Kebanyakan
aktivitas ilmiah, menurut Kuhn berlangsung dalam rubric ilmu normal, yakni ilmu yang kita jumpai dalam buku-buku teks dan
yang mensyaratkan agar riset didasarkan pada satu pencapainya ilmiah masa
silam atau lebih, pencapaian-pencapaian yang diakui sementara waktu oleh
komunitas ilmiah tertentu sebagai dasar bagi praktek selanjutnya. Ilmu yang restriktifdan
bersifat pemecahan masalah secara tertutup ini memiliki kekurangan maupun
kelebihannya. Disatu sisi ia memungkinkan komunitas ilmiah untuk mengumpulkan
data berdasarkan satu basis sistematis dan secara cepat memperluas batas-batas
ilmu.
Jika ilmuwan individual bisa
menerima paradigma begitu saja, maka ia dalam karya-karya besarnya, tidak lagi
memerlukan upaya untuk membangun bidangnya secara baru, berangkat dari
prinsip pertama dan menjustifikasi setiap konsep yang diajukan. Ttugas ini bisa
diberikan kepada para penulis bbuku teks. Namun dengan tetap mengingat buku
teks, ilmuwan yang kreatif bisa memulai risetnya dari tempat dimana riset itu
telah berhenti dan dengan demikian memusatkan perhatian secara eksklusif pada
aspek-aspek fenomena alam yag palig substil dan esoteric yang menjadi oerhatian
kelompoknya.
Dilain pihak ilmu normal mengisolasi
komunitas ilmiah dari segala sesuatu yang berada diluar komunitas itu.
Masalah-masalah yang penting secara sosial, yang tak bisa direduksi menjadi
bentuk pemecahan teka-teki, menurut Kuhn, dikesampingkan dan apapun yang berada
diluar lingkup konseptual dan instrumental paradigma itu dianggap tidak
relevan.
Dalam
buku Structur Kuhn menyatakan “sains yang normal berarti riset yang dengan
teguh berdasar atas satu atau lebih pencapaian ilmiah yang lalu. Pencapaian
yang oleh masyarakat ilmiah tertentu pada suatu ketika dinyatakan sebagai
pemberi fondasi pada praktek selanjutnya. Sekarang pencapaian-pencapaian itu
diceritakan, meski jarang dalam bentuk aslinya, oleh buku-buku teks sains
tingkat dasar dan tingkat lanjutan. Buku-buku teks ini menjelaskan secara rinci
tubuh teori yang diterima, menerangkan banyak atau seluruh penerapan yang
berhasil, dan membandingkan penerapan inidengan eksperimen dan pengamatan
contoh. Sebelum buku-buku tersebut menjadi popular pada awal abad 19 (bahkan
sampai akhir-akhir ini bagi sains-sains yang baru mapan) banyak dari buku-buku
klasik yang termasyhur tentang sains yang memenuhi fungsi yang serupa. Physica
karya Aristoteles, Almagest karya Ptolomeus, Principia dan Optic karya Newton,
Electricity karya Franklin, nChemistry karya Lavoisier dan Geology karya
Lyell. Semua ini dan banyak karya lainnya pada suatu masa digunakan secara
mutlak untuk menetapkan masalah-masalah yang sah dan metode-metode bidang
riset bagi generasi-generasi pemraktek selanjutnya. Mereka bisa berbuat
demikian karena mereka sama-sama memiliki dua karakteristik yang essensial.
Pencapaian mereka cukup baru, belum pernah ada sebelumnya, sehingga dapat menghindarkan
kelompok penganut yang kekal dari mempersaingkan cara melakukan kegiatan
ilmiah. Sementara itu, pencapaian tersebut cukup terbuka sehingga segala macam
masalah diserahkan kepada kelompok pemraktek yang ditetapkan kembali untuk
dipecahkan.
Pendekatan Kuhn terhadap Ilmu pada dasarnya
adalah reaksi terhadap tafsir Whig atas sejarah, bahwa sejarah adalah progresi
kebebasan linier yang kian meningkat dan berpuncak pada masa kini. Sejarah Whig
membaca masa silam dengan arah kebelakang dan menjelaskan masa kini sebagai
produk kumulatif pencapaian masa silam. Penolakan terhadap sejarah Whig dalam
bidang sejarah ilmu, dimulai antara lain oleh Alexander Koyre, yang terhadapnya
Kuhn mengakui hutang intelektual yang besar. Kuhn menyadari bahwa untuk menyadari
bagaimana suatu tradisi historis berkembang, orang harus memahami perilaku
sosial dari mereka yang terlibat membentuk tradisi. Pemahaman inilah, tulis
Barry Barnesyang berpadu dengan kepekaan dan sensibilitas historisnya yang
menjadi sumber orisinaitas dan arti penting karya Kuhn. Pelestarian suatu
bentuk kebudayaan mengandaikan mekanisme-mekanismesosialisasi dan penyebaran
pengetahuan, prosedur-prosedur untuk menunjukkan lingkup makna dan representasi
yang diterima, metode-metode untuk meratifikasi inovasi-inovasi yang telah
diterima dan member mereka cap legitimasi. Semua itu harus dijaga
keberlangsungannya oleh para anggota kebudayaan itu sendiri, jika konsep-konsep
dan representasi hendak dipertahankan eksistensinya. Jika ada bentuk budaya
yang tetap bertahan, pasti ada pula sumber-sumber otoritas dan control
kognitif. Kuhn menampilkan riset ilmiah sebagai produk dari suatu interaksi
yang kompleks antara komunitas peneliti, tradisi otoritatif, dan lingkungannya.
Dalam keseluruhan proses itu rasio dan logika sama sekali bukan satu-satunya
criteria bagi kemajuan dalam pengetahuan ilmiah.
BAB III
KESIMPULAN
Dalam perkembangan sejarahnya,
ilmu dipandang sebagai aktivitas yang murni dan tidak terkait dengan
kekuasn dan ideologi serta bebas dari nilai subyektivitas. Dan kepercayaan
inipun sampai sekarang masih banyak diyakini oleh banyak orang. Pengetahuan yang
ada dalam teori juga banyak diyakini keobyektivannya baik dalam ilmu alam
maupun Ilmu sosial. Tetapi seiring dengan perkembangan filsafat keilmuan,
asumsi tersebut banyak tekikis dan menyatakan bahwa sebuah teori pengetahuan
sangat terkait erat dengan subyektivitas ilmuwan yang menemukan sebuah teori
dan juga terkait dengan ideology yang melatarbelakangi corak berfikirnya.
Seorang ilmuwan yang corak berfikirnya positivistic pasti hasil penelitiannya
tidak akan jauh dari prosedur yang positivis, begitupun dengan yang lainnya.
Dalam buku Structure Thomas
Kuhn juga mengkritik tentang bebas nilai dari sebuah ilmu pengetahuan. Ia
menyatakan bahwa ilmuwan ketika meneliti sesuatu dan menciptakan teori ada
“paradigma” yang mendasari proses dalam penelitiannya. Paradigma ini adalah
menggambarkan system keyakinan yang mendasari upaya pemecahan teka-teki.
Lingkup paradigm biasanya persoalan Aspek-aspek alam yang mana yang biasanya
dilaporkan oleh para ilmuwan itu? Apa yang menentukan pilihan mereka? Dan
karena kebanyakan pengamatan ilmiah itu memerlukan banyak waktu, perlengkapan,
dan uang, apa yang memotivasi para ilmuwan untuk meneruskan pilihan itu sampai
memperoleh kesimpulan?”. Paradigma lama bertarung dengan paradigm baru yang
lebih rasional dan maju. Paradigm baru ini lalu menjadi mapan dan usang lalu
digantikan dengan paradigma yang lebih baru, begitupun seterusnya.
Daftar Pustaka
http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2008/09/thomas-khun-structur-of-scientific.html
Sardar, Ziauddin, Thomas Kuhn Dan Perang Ilmu,
Yogyakarta: Penerbit Jendela, 2002.
Kuhn, Thomas S., The Structure of Scientific
Revolutions, Peran Paradigma Dalam Revolusi Sains, Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2005.




0 komentar